Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label Sejarah Kerajaan Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Kerajaan Nusantara. Show all posts

Kerajaan - kerajaan di Nusantara

Written By Paknetyas on Thursday, June 13, 2013 | 12:12 PM



Pada kira-kira th. 78 Masehi. Diperkirakan permulaan Kerajaan dengan nafas Hindu sekaligus merupakan permulaan metode perthitungan Tahun di Jawa.

Abad IV-V : Kerajaan Hindu di Jawa Barat Tarumanegara. Raja : Purnawarman.dengan Ibu kota Jansinga. dan di Jawa Tengah berdiri Kerajaan Kalingga. 
414 : Perkunjungan Fa Hien musafir Tionghoa ke Indonesia. 

433 dan 435 : Dua kali terjadi perkunjungan utusan Tarumanegara ke Tiongkok. 
Kira-kira th. 450 M : Di Kalimantan : kerajaan Muarakaman atau Kutai. Raja-rajanya : Kudungga, Asjwawarman dan Mulawarman. 
Kira-kira th. 650 M : Di Sumatera berdiri : kerajaan Melayu dan Sriwijaya.. 
Kira-kira th. 700 M : Kerajaan Melayu runtuh. Sriwijaya berkuasa. Pusat pemerintahan berada di Palembang sekaligus sebagai pusat agama Budha dan ilmu pengetahuan di Sumatra 
Kira-kira th. 732 M : Wangsa Sanjaya merubah nama Kalingga dengan Mataram. Ia menjadi raja pertama Mataram Hindu. dengan Ibu kota : Medang Kamulan. Masa ini juga merupakan masa pendirian candi-candi Siwa di Gunung Dieng. 
Kira-kira th. 750-850 M : Sailendra dari Sriwijaya menguasai Jawa Tengah.,juga masa berdirinya candi-candi : Borobudur, Candi Mendut, Candi Kalasan. 
Kira-kira th. 800 M : Mataram Hindu terdesak. Keluarga Sanjaya menyingkir ke wilayah Jawa Tengah 
Kira-kira th. 925 M : Jawa Tengah ditinggalkan, di Jawa Timur mulai didirikan kerajaaan-kerajaan (925-1042) 
Kira-kira th. 929-947 M : Empu Sindok, raja pertama Jawa Timur, pusat : Singasari. 
947-990 : Sri Isyana Tunggawijaya, puteri Sindok memerintah. 
990-1007 : Pemerintah Darmawangsa.Pada zaman ini diterjemahkan Kitab Mahabarata dari bahasa Sansekerta ke dalam huruf dan bahasa Jawa. 
991-992 : Peristiwa Penyerangan Darmawangsa ke Sriwijaya, namun gagal. 
1006-1007 : Sriwijaya menuntut balas. Darmawangsa tewas. 
1010 : Utusan terdiri dari bupati-bupati meminta pada Airlangga, menantu Darmawangsa untuk mengendalikan pemerintahan. 
1019-1041 : Pemerintahan Airlangga berdiri dengan Ibu kota: Kahuripan. Pada zaman ini Empu Kanwa menciptakan : Kitab Arjunawiwaha. 
1028-1035 : Airlangga turun tahta. Kerajaan yang dengan susah payah dibagi dua untuk kedua putranya. Jenggala dengan ibu kota Kahuripan,dan Panjalu atau Kediri dengan ibu kota Daha.


Kerajaan Kediri (1042 – 1222)

Terjadilah peperangan antara kedua putra Airlangga untuk merebut hegemoni. Akhirnya Kediri berkuasa. Pengaruhnya sampai ke Indonesai Timur. 
1115-1134 : Pemerintahan Kamicwara I. Dalam zamannya Empu Darmaja menjiptakan : Smaradahana. 
1135-1157 : Jayabaya,merupakan Raja ,sekaligus dikenal ahli-nujum. Masa ini, Empu Sedah menterjemahkan sebagian Mahabrata: Bratayuda. ada juga Pujangga lain yang hidup yaitu :Empu Panuluh.


1157-1171 : Sarweswara 
1171-1181 : Areyyeswara 
1181-1185 : Kroncharyadipa 
1185-1194 : Karmicwara II
1194-1200 : Sarweswara 
1200-1222 : Kertajaya 
1222 : Kertajaya dikalahkan oleh Ken Angrok, raja Singasari
1222-1227 : Pemerintahan Ken Angrok bergelar Rajasa, raja pertama Singasari. Pusatnya berada di Tumapel 

1227 : Ken Angrok dibunuh oleh anak tirinya Anusapati. 
1227-1248 : Pemerintahan Anusapati. 
1248 : Tohjaya memerintah. 
1248-1268 : Ranggawuni ( Sriwisnuwardana). 
1268-1292 : Kertanegara raja terakhir Singasari. 
1275 : Ekspedisi ke Melayu. Sriwijaya   ditaklukan. 
1284 : Ekspedisi ke Bali 
1289 : Hubungan Singasari dengan Kubilai Khan, Kaisar Tiongkok, menjadi buruk. 
1292 : Serangan atas Singasari oleh Jayakatwang, anak Kertajaya.


Kerajaan Kediri II (1292-1293) 

Kerajaan ini tidak lama berdirinya. Berdirinya disertani dengan pemerintahan-bayangan Majapahit yang akan menjelma. Baru saja Jakatwang memerintah, kerajaan telah jatuh ketangan yang lebih berhak : Raden Wijaya, keturunan Ken Angrok 

1293 : Angkatan laut Tiongkok dibawah pimpinan Hei Mi, Kan, Hsing dan Hsi Pi berlabuh di Tuban. Maksudnya untuk menghajarKertanegarta yang sudah meninggal. Raden Wijaya memakai kesempatan ini. Pertama kali bersatu dengan pasukan Tiongkok dan bersama-sama menjerang Jayakatwang yang dapat dikalahkan. Raden Wijaya kini balik gagang dan mengusir pasukan Tiongkok.

Kerajaan Majapahit 

1293-1309 : Raden Wijaya, dengan gelar Kertarajasa Jayawrdana, radja     
                    Majapahit pertama. 
1309-1328 : Pemerintah Jayanegara 
1328-1350 : Prabu Kenya atau Tribuanatunggadewi memerintah. 
1350-1389 : Pemerintahan Hayam Wuruk zaman keemasan Majapahit. Hampir 
                    seluruh Indonesia dalam kekuasaan. Buat pertama kali dipakai kata :  
                     Nusantara. 
Pujangga :     Empu Prapanca menulis Negarakertagama,Empu Tantular : 
                    Arjunawijaya Sutasoma 

1364        :   Gajah Mada, perdana menteri utama Majapahit, meninggal, setelah 
                    lebih kurang 33 tahun memegang jabatan Patih 
1389-1400 : Pemerintahan pertama Wikramawardana 

1429-1447 : Pemerintahan kedua Suhita
1447-1451 : Pemerintahan Bre Tumapel
1437 : Kediri memerdekakan diri dari Majapahit
1478 : Rja Kediri, Giridrawardana mengusir raja-raja keturunan Raden Wijaya
1520 : Kejatuhan Majapahit seluruhnya. Tamatlah riwayatraja-raja keturunan Ken Arok

(Lebih jelasnya mengenai Kerajaan Majapahit Klik Link ini)

Jawa Barat 
1030 : Berdirinya kerajaan nafas hindu : Sunda dengan rajanya Sri Jayabupati.
1190 : Kerajaan Galuh dengan rajanya Ratu Pusaka
1333 : Kerajaan Pajajaran, dengan ibu kota Pakuan. Rajanya Ratu Purnama

Kerajaan Kutai 
Di Kalimantan timur tahun 400 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang pertama : Kudungga
Raja yang terkenal : Mulawarman

Kerajaan Tarumanegara
di Jawa Barat tahun 500 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang terkenal : Purnawarman

Kerajaan Kalingga 
di Jepara (Jawa Tengah) tahun 640 M (Kerajaan Budha)
Raja yang terkenal : Ratu Shima:

Kerajaan Mataram awal Hindu 
Di Jawa Tengah tahun 732 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang pertama : Sanjaya
Raja yang terkenal : Balitung

Kerajaan Sriwijaya 
Di Palembang abad VII (Kerajaan Budha)
Raja yang pertama : Sri Jaya Naga
Raja yang terkenal : Bala Putra Dewa

Kerajaan Medang 
Di Jawa Timur abad IX (Kerajaan Hindu)
Raja yang terkenal : Empu Sendok:

Kerajaan Kahuripan 
Di Jawa Timur tahun 1073 M (Kerajaan Hindu)
Raja yang pertama dan terkenal : Airlangga

Kerajaan Singasari 
Di Jawa Timur tahun 1222 - 1292
Raja yang pertama : Sri Rajasa (Ken Arok)
Raja yang terkenal : Kertanegara (Joko Dolok)

Kerajaan Pajajaran
Di  Priangan (Jawa Barat) tahun 1333 (Kerajaan Hindu)
Raja yang terkenal : Sri Baduga Maharaja
Raja yang terakhir : Prabu Sedah

Kerajaan Demak 
Di Jawa Tengah tahun 1513 - 1546 (Kerajaan nafas Islam)
Raja yang pertama : Raden Patah (Sultan Bintoro)
Raja yang terakhir : Sultan Trenggono

Kerajaan Pajang
Di Surakarta tahun 1568 - 1586
Raja yang pertama : Joko Tingkir (Sultan Hadiwijoyo) Raja yg terakhir : Ario Pangiri


Kerajaan Mataram 
Islam di Kota Gede (Yogyakarta) abad XVI
Raja yang pertama : Suto Wijoyo (Panembahan Senopati)
Raja yang terkenal : Sultan Agung

Kerajaan Banten 
Di Jawa Barat tahun 1556 - 1580 (Kerajaan nafas Islam)
Raja yang pertama : Hasanuddin
Raja yang terkenal : Sultan Ageng
Raja yang terakhir : Panembahan Yusuf

Islam Di Indonesia
571 : Lahirnya Nabi Muhammad s.a.w
622 : Nabi Muhammad hidjrah dari Mekah ke Madinah Permulaan perkiraan Tahun Islam.
632 : Wafatnya Nabi Muhammad s.a.w.
Kira-kira abad ke-13 (1290) : Islam masuk ke Indonesia. Kerajaan Islam di Sumatera : Perlak dan Samudera Pasai
Kira-kira abad ke-14 : Malaka menjadi pusat perkembangan Islam.
1419 : Maulana Malik Ibrahim, wafat di Gersik. Pengembang Islam yang pertama di Jawa Timur
1511 : Bandar Malaka jatuh kedalam tangan orang Portugis
1518 : Adipati Unus mencoba merebut Malaka. Kerajaan kerajaan Islam pertama di Jawa berdiri : Demak dengan raja pertama Raden Patah
1521 : Pasai jatuh ketangan Portugis
1527 : Falatehan menaklukan Banten dan menjadi penyiar Islam di Jawa Barat.
1568 : Baten melepaskan diri dari Demak
1570 : Falatehan wafat dimakamkan di Gunung Jati :


JAWA TENGAH-Mataram 

569 : Tanda kekuasaan kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang. Kyai Gede
           Pemanahan, petinggi Mataram, daerah terkemuka dibawah pemerintahan
            Pajang.
1575 : Kyai Gede Pemanahan wafat
1575-1601 : Sutawijaya \Senopati, putra Kyai Gede, raja pertama Mataram awal

1582 : Pajang dikepung Mataram
1586 : Pajang dipidahkan ke Mataram
1601-1613 Mas Jolang
1613-1645 : Sultan Agung
1645-1677 Amngkurat I
1677-1703 : Amangkurat II
1703-1708 : Amangkurat III (sunan mas)
1703-1719 :Paku Buwana I (P.Puger)
1704-1708 : Perang Mahkota I
1719-1727 : Amangkurat IV
1719-1723 : Perang Mahkota II
1726-1749 : Paku Buwana II
1749-1753 : Perang Mahkota III
1749-1788 : Paku Buwana III
1755 : Perjanjian Gianti. : Surakarta dan Yogyakarta terbagi
1755-1792 : Hamengku Buwono I (Mangkubumi), Sultan Jogja
1757 : Perdamaian Salatiga. berdirinya Mangkunegaran,
1788-1820 : Paku Buwana IV
1792-1810 : Hamengku Buwana II
1811-1812 : Hamengku Buwana II
1813 :         Timbulnya Paku Alam, bagian dari Yogyakarta. Pangeran Notokusumo
                   sebagai Paku Alam I.

Sesudah 1813 :Mataram II terpecah empat
1938 : Paku Alam VIII
1939 : Hamengku Buwana IX
1944 : Paku Buwana XII
1944 : Mangku Negara VIII

(Lebih jelasnya mengenai Kerajaan Mataram,  Klik Link ini)

Kerajaan Majapahit



Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari. Raja yang memerintah :
o Raden Wijaya 1273 - 1309
o Jayanegara 1309-1328
o Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350
o Hayam Wuruk 1350-1389
o Wikramawardana 1389-1429
o Kertabhumi 1429-1478

Mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389)
Kebesaran kerajaan ditunjang oleh:
o Pertanian sudah teratur
o Perdagangan lancar dan maju
o Memiliki armada angkutan laut yang kuat
o Dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada. Di bawah patih Gajah Mada Majapahit
        menaklukkan daerah lain ia mengucapkan Sumpah Palapa yang berbunyi:
        "Ia tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara". Mpu
        Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menceritakan tentang zaman gemilang kerajaan di masa
        Hayam Wuruk  dan juga silsilah raja sebelumnya. Tahun 1364 Gajah Mada Mangkat disusul oleh
        Hayam Wuruk di tahun 1389 dan kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran

Penyebab kemunduran:
o Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada
o Meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan
o Daerah bawahan mulai melepaskan diri
o Berkembangnya Islam di daerah pesisir
o Gerangan pasukan Kediri tahun 1478

Peninggalan kerajaan Majapahit:

o Bangunan: Candi Panataran, Sawentar, Tiga Wangi, Muara Takus
o Kitab:

  • Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
  • Sitosoma oleh Mpu Tantular yang memuat slogan Bhinneka Tunggal Ika
  • Paraton
  • Kidung Sundayana dan Sorandaka



R Wijaya Mendapat Wangsit Mendirikan Kerajaan Majapahit. 

Dua pohon beringin di pintu masuk Pendopo Agung di Trowulan, Mojokerto. Dua pohon beringin itu ditanam pada 22 Desemebr 1973 oleh Pangdam Widjojo Soejono dan Gubernur Moehammad Noer. 

Di belakang bangunan Pendopo Agung yang memampang foto para Pangdam Brawijaya, terdapat bangunan mungil yang dikelilingi kuburan umum. Bangunan bernama Petilasan Panggung itu diyakini Petilasan Raden Wijaya dan tempat Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. 
Begitu memasuki bangunan Petilasan Panggung, yang memiliki pendopo mini sebagai latarnya, tampak beberapa bebatuan yang dibentuk layaknya kuburan, dinding di sekitar " kuburan " itu diselimuti kelambu putih transparan yang mampu menambah kesakralan tempat itu. 
Menurut Sajadu ( 53 ) penjaga Petilasan Panggung, disinilah dulu Raden Wijaya bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat ini pula Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. " Tempat ini dikeramatkan karena dianggap sebagai Asnya Kerajaan Majapahit " katanya. 

Pada waktu tertentu khususnya bertepatan dengan malam jumat legi, banyak orang datang untuk berdoa dan mengharapkan berkah. " orang berdatangan untuk berdoa, agar tujuannya tercapai " kata Sajadu yang menyatakan pekerjaan menjaga Petilasan Panggung sudah dilakukan turun-temurun sejak leluhurnya. 


Sembari menghisap rokok kreteknya, pria yang mewarisi sebagai penjaga petilasan dari ayahnya sejak 1985 juga menceritakan, dulunya tempat itu hanya berupa tumpukkan bebatuan. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada di dalam, katanya. 



Kemudian pada 1964, dilakukan pemugaran pertama kali oleh Ibu Sudarijah atau yang dikenal dengan Ibu Dar Moeriar dari Surabaya. Baru pada tahun 1995 dilakukan pemugaran kembali oleh Pangdam Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Utomo. 



Memasuki kawasan Petilasan Panggung, terpampang gambar Gajah Mada tepat disamping pintu masuk. Sedangkan dibagian depan pintu bergantung sebuah papan kecil dengan tulisan " Lima Pedoman " yang merupakan pedoman suri teladan bagi warga. 


Selengkapnya " Ponco Waliko " itu bertuliskan " Kudutrisno Marang Sepadane Urip, Ora Pareng Ngilik Sing Dudu Semestine, Ora Pareng Sepatah Nyepatani dan Ora Pareng Eidra Hing Ubaya "   

Dikisahkan Sajadu pula, Petilasan Panggung ini sempat dinyatakan tertutup bagi umum pada tahun 1985 hingga 1995. Baru setelah itu dibuka lagi untuk umum, sejak dinyatakan dibuka lagi, pintu depan tidak lagi tertutup dan siangpun boleh masuk.  


MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT 

Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Majapahit menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke seluruh Asia Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan seorang penguasa yang disebut Raja pula.


Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru  dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung tersebut adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.

Keruntuhan Majapahit


Tersebutlah kisah, Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih "kapernah" kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir.Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu. Prajurit Islam dikerahkan mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya
meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari. Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak.
Cerita ini masih dibumbui lagi, yaitu setelah Majapahit jatuh, Adipati Terung ditugasi mengusung paseban raja Majapahit ke Demak untuk kemudian dijadikan serambi masjid. Adipati Bintara itu kemudian bergelar "Senapati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama".

Cerita mengenai serbuan tentara Majapahit itu dapat ditemui dalam "BABAD TANAH JAWI". Tapi cerita senada juga terdapat dalam "Serat Kanda". Disebutkan, Adipati Bintara bersama pengikutnya memberontak pada Prabu Brawijaya. Bala tentara Majapahit dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, Adipati Terung dan Andayaningrat (Bupati Pengging). Karena takut kepada Syekh Lemah Abang, gurunya, Kebo Kenanga (Putra Bupati Pengging) membelot ikut musuh. Sementara itu Kebo Kanigara saudaranya tetap setia kepada Sang Prabu Brawijaya.


Tentara Demak dibawah pimpinan Raden Imam diperlengkapi dengan senjata sakti "Keris Makripat" pemberian Sunan Giri yang bisa mengeluarkan hama kumbang dan "Badhong" anugerah Sunan Cirebon yang bisa mendatangkan angin ribut. Tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai keibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam.
Karena terdesak, Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar "Panembahan Jinbun", adipati Bintara mengutus Lembu Peteng dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau tetap menolak. Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali.

Cerita versi BABAD TANAH JAWI dan SERAT KANDA itulah yang selama ini populer dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah. Padahal kenyataannya tidak begitu.


Selain fakta lain banyak menungkap bahwa masuknya Islam dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai. Juga fakta keruntuhan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan tentara Islam demak.

Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit" secara panjang lebar membantah isi cerita itu berdasarkan bukti-bukti sejarah. Dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi sumber sejarah yang dapat dipercaya. Sumber sejarah itu antara lain beberapa prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, seperti "Negara Kertagama dan Pararaton". Karena itu tidak mengherankan jika uraiannya tentang Majapahit banyak yang cacat.


"Prasasti Petak" dan "Trailokyapuri" menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling.

Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit.


Penggubah Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan Demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya Kediri oleh serbuan Demak dijaman pemerintahan Sultan Trenggano 1527. Penyerbuan Sultan Trenggano ini dilakukan karena Kediri mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. Demak yang memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kediri menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu.

Setelah Kediri jatuh (Bukan Majapahit !) diserang Demak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda, melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu. Lebih jelasnya lagi raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti disebutkan dalam Buku Babad dan Serat Kanda itu, demikian Dr. Slamet Muljana.


Sejarawan Mr. Moh. Yamin dalam bukunya "Gajah Mada" juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V raja Majapahit terakhir, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan serangan dari Demak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah.
Soalnya Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 Masehi atau 1286 Saka.
Penuturan buku "Dari Panggung Sejarah" terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan Demak atau tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya "Ying Yai Sheng Lan" menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa.

Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi'ul Awwal 882 H atau 8 April 1419 Masehi, berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu menurut Tjokrosujono (Mantan kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Mojokerto), nisan itu asli bukan buatan baru.


Salah satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu kota, adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM. Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi).
Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.
 
P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873.
L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI. Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota.
Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi.
Satu situs kepurbakalaan lagi dikecamatan trowulan yakni diDesa dan kecamatan Trowulan adalah Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah jawi, Putri Cempa (Jeumpa, bahasa Aceh) adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan dikompleks kekunaan ini berangka tahun 1370 Saka (1448 Masehi) dan 1313 Saka (1391 Masehi).
Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara Islam dimakam panjang (Kubur Dawa). Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari makam Putri Cempa bangsawan Islam itu.
Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan. Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa.
Dikompleks Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur misalnya, berdiri tegak Candi Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Saka (1478 masehi) yang kini letaknya berada dibelakang kantor Pemda tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok pesantren dan candi yang berdekatan letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban.
Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan Kudus Ja'far Sodiq menyebarkan ajaran Islam disana, ia melarang umat Islam menyembelih sapi untuk dimakan. Walau daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang menyembelihnya untuk menghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi.
Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu.


Info Penting

Pengetahuan Umum

Olah Rasa

Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah.
***
Jejering wanita utama saka kasetyane marang garwa ,dene ajining priya utama saka kaprawirane.
***

Kadonyan kang ala iku ateges mung ngangsa-angsa golek bandha donya, ora mikirake kiwa tengene, uga ora mikirake kahanan batin.
***

Wong kang ora weruh tatakrama udanegara (unggah-ungguh) iku padha karo ora bisa ngrasakake rasa nem werna (legi, kecut, asin, pedhes, sepet, pahit.***

Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pangeran lan diwelehake dening tumindake dhewe.
***
See all post

Tokoh Pewayangan

Semar dan Punokawan

 Batara Semar  MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu. Yang ada... Read More �

See all post

Adat Istiadat

SURO

Kirab Pusaka Karaton Surakarta Kirap pusaka Karaton adalah tatacara Karaton Surakarta Hadiningrat yang dilaksanakan secara tetap pada se... Read More �

Cerita Pewayangan

Sejarah

Aqidah

Seni dan Sastra

 
Support : Creating Website | | Paknetyas
Copyright © 2011. Blog Paknetyas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Paknetyas
Proudly powered by Blogger