Headlines News :

Latest Post

Banjaran Cerita Pandhawa (18) - Perkawinan Arjuna dengan Sumbadra

Written By Paknetyas on Friday, December 12, 2014 | 11:11 AM

Arjuna, ketika bertapa menjadi Ciptoning Mintaraga di Gunung Indrakila (karya Herjaka HS)


Prabu Baladewa menemui Prabu Kresna di Kerajaan Dwarawati. Mereka berunding tentang rencana perkawinan Sumbadra. Prabu Kresna ingin mengawinkan Sumbadra dengan Arjuna. Prabu Baladewa tidak menyetujui, ia ingin mengawinkan Sumbadra dengan Burisrawa. Prabu Kresna mengingatkan pesan Prabu Basudewa, yaitu bila Sumbadra kawin supaya dinaikan kereta emas, disertai kembang mayang kayu Dewanaru dari Suralaya, dengan diiringi gamelan Lokananta, berpengiring Bidadari. Mempelai laki-laki menyerahkan harta kawin berupa kerbau danu. Prabu Baladewa akan mengajukan persyaratan itu kepada raja Duryodana. Prabu Kresna menyuruh Samba dan Setyaki ke Ngamarta untuk menyampaikan persyaratan itu juga.
Prabu Kresna masuk ke istana memberi berita rencana perkawinan Sumbadra kepada Dewi Rukmini, Dewi Jembawati dan Dewi Setyaboma.
Prabu Kalapardha raja negara Jajarsewu jatuh cinta kepada Dewi Sumbadara. Raja menyuruh Kala Klabangcuring supaya menyampaikan surat lamaran ke Dwarawati. Kala Klabangcuring berangkat, ditemani KalaKurandha dan Kala Kulbandha. Kyai Togog Wijamantri menjadi penunjuk jalan.
Prabu Puntadewa raja Ngamarta, duduk dihadap oleh Wrekodara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka menyambut kedatangan Bagawan Abyasa Samba dan Setyaki datang menyampaikan syarat perkawinan kepada Prabu Puntadewa. Bagawan Abyasa menyanggupinya. Wrekodara disuruh mencari kerbau danu. Arjuna disuruh ke Kahyangan Cakrakembang minta pohon Dewandaru, gamelam Lokananta dan Bidadari. Arjuna berangkat ke Cakrakembang, ditemani para panakawan.
Wrekodara masuk ke hutan Setragandamayu. Ia berhasil memperoleh kerbau danu setelah mengalahkan Dhadhungawuk dan menghadap Sang Hyang Pramuni. Wrekodara menemui Anoman di Kendalisada, ia minta kereta emas dan tiang dhomas. Wrekodara diajak ke Singgela menemui Prabu Bisawarna. Prabu Bisawarna mengabulkan permintaan Wrekodara. Wrekodara kembali ke Ngamarta. Anoman mengikutinya. Wrekodara diberi kereta emas dan tiang dhomas oleh Prabu Bisawarna.
Prabu Suyudana dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sengkuni dan keluarga Korawa. Prabu Baladewa datang, memberitahu tentang permintaan Sumbadra. Patih Sengkuni dan Korawa pergi mencari persyaratan. Pendeta Durna diminta menemui Dewi Wilutama untuk minta pohon Dewandaru, gamelan Lokananta dan bidadari pengiring mempelai.
Para Korawa berjumpa Wrekodara. Mereka merebut kerbau danu. Terjadilah perkelahian. Korawa tidak mampu melawan, mereka lari tungganglanggang takut amukan Wrekodara dan Anoman.
Arjuna menghadap Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih di Kahyangan Cakrakembang. Arjuna berhasil meminta pohon Dewandaru, gamelan lokananta dan bidadari pengiring mempelai.
Burisrawa minta segera dikawinkan dengan Sumbadra. Prabu Suyudana berunding dengan Prabu Baladewa. Tiba-tiba datang Patih Sengkuni dan para Korawa, mereka mengatakan telah berhasil memperoleh kerbau danu dan tiang dhomas, tetapi dirampas oeh Wrekodara. Kemudian pendeta Durna datang, ia mengatakan telah berhasil, tetapi hasil itu dirampas oleh Arjuna. Prabu Baladewa mengajak Burisrawa ke Dwarawati untuk dikawinkan dengan Sumbadra.
Bagawan Abyasa dan Prabu Puntadewa menanti kedatangan Wrekodara dan Arjuna. Wrekodara datang memberitahu, bahwa ia telah memperoleh empat puluh kerbau danu dan telah siap di alaun-alaun. Arjuna memberitahu bahwa dewa akan mengijinkan permintaannya. Kemudian Hyang Narada datang bersama bidadari pengiring mempelai, beserta pohon Dewandaru dan gamelan Lokananta.
Prabu Kala Pardha raja Jajarsewu, menerima laporan dari Tejamantri, bahwa para utusan mati oleh Arjuna Prabu Kala Pardha berangkat ke Dwarawati akan membununh Arjuna.
Arjuna datang di Dwarawati. Di Dwarawati telah hadir Hyang Narada, para dewa dan keluarga Pandhawa. Hyang Narada menyerahkan persyaratan yang diminta oleh Sumbadra. Setelah siap, Arjuna dipertemukan dengan Sembadra.
Prabu Baladewa datang dengan mengawal Burisrawa, lengkap berpakaian pengantin. Prabu Kresna memberitahu bahwa, Sembadra telah dikawinkan dengan Arjuna Prabu Baladewa meminta agar perkawinan itu dibatalkan, sebab Korawa yang berhasil mendapatkan semua permintaan Sumbadra. Arjuna dan Wrekodara merampas hasil mereka. Dhadhungawuk dan Hyang Narada memberi penjelasan, bahwa Wrekodara dan Arjuna yang memperoleh hasil, para Korawa yang mencoba merampasnya.
Prabu Baladewa marah lalu mengamuk. Wrekodara menahan amukan Prabu Baladewa. Keluarga Korawa membantu, tetapi diserang oleh amukan kerbau danu. Korawa lari tunggang langgang, kembali ke Ngastina. Pergulatan Prabu Baladewa dan Wrekodara dipisah oleh Kresna. Arjuna dan Sumbadra menghadap Prabu Baladewa. Sumbadra mohon dibunuh saja bila harus cerai dengan Arjuna. Prabu Baladewa menaruh kasihan kepada adiknya, seketika hilang kemarahannya, dan merestui perkawinan adiknya.
Prabu Kala Pardha datang bersama perajurit, menyerang kerajaan Dwarawati. Wrekodara ditugaskan untuk memadamkan serangan musuh. Raja raksasa gugur, semua perajurit raksasa hancur, habis binasa. Kerajaan Dwarawati telah aman, kemudian berlangsung pesta perkawinan Arjuna dan Sumbadra.
Mangkunagara VII jilid XIII, 1931: 1-6

Banjaran Cerita Pandhawa (17) - Kelahiran Arjuna (2)

“Kelahiran” tinta pada kanvas, karya Herjaka HS

Bagawan Abyasa, Yamawidura, Kunthi, Madrim, Puntadewa dan Bima sedang di istana. Mereka menanti kehadiran Pandhu. Tak lama kemudian Petruk utusan Pandu datang menyerahkan Kitiran Seta, dan memberi tahu, bahwa raja Pandu sedang mengantar raja Basudewa ke Mandura.
Kunthi yang sedang hamil tua menerima kitirn seta, dan kemudian lahirlah bayi didalam kandungan. Mereka yang ada di ruangan itu gugup dan bingung, Bima kemudian membawa bayi yang sedang lahir ke Mandura menyusul Pandu. Begawan Abyasa dan Petruk mengawal dari belakang.
Ugrasena menghadap Dewi Mahendra dan Dewi Badraini. Mereka menanti kedatangan raja Basudewa. Kemudian datang raja Basudewa, Pandu dan Arya Prabu. Merela membawa Kidangwulung , seperti yang diminta Dewi Badraini. Kidangwulung diberikan kepada Dewi Badraini, tak lama kemudian lahirlah bayi di dalam kandungannya. Bayi tersebut lahir perempuan dan diberi nama Sumbadra.
Bima datang membawa bayi, Bagawan Abyasa dan Petruk mengikutinya. Bayi diserahkan kepada Pandu. Pandhu menerima, bayi diberi nama Parmadi. Bagawan Abyasa memberi nama Palguna. Bima memberi nama panggilan Jlamprong.
Bayi perempuan sembadra dan bayi laki-laki Parmadi dipangku oleh raja Basudewa. Sumbadra pada paha kiri dan Parmadi pada paha kanan. Basudewa berkata, kedua bayi ditunangkan, kelak supaya hidup sebagai suami isteri dan menurunkan raja besar.
Tiba-tiba datang Suratimantra membawa bayi bernama Kangsa. Suratimantra memberi tahu, bahwa bayi itu anak Dewi Maherah. Bagawan Abyasa menyuruh agar Suratimantra bersama bayi Kangsa menungu di alun-alun. Raja Basudewa menolak penyerahan bayi itu. Raja Basudewa ingat bahwa bayi itu anak dari Dewi Maherah isterinya dengan Gorawangsa.
Maka diutuslah Ugrasena untuk datang di alun-alun, memberi tahu, bahwa raja tidak mau menerima Kangsa sebagai putra raja. Suratimantra marah dan terjadilah perkelahian. Suratimantra tidak mampu melawan, Kangsa membelanya. Semua kalah oleh perlawanan Kangsa. Raja Basudewa terpaksa mau mengakui Kangsa sebagai anak, dan diberi tempat tinggal di Sengkapura. Suratimantra ditugaskan untuk mengasuhnya. Suratimantra memberi nama Kangsadewa.
Perajurit Bombawirayang mengira Suratimantra dan Kangsa mati di Mandura. Mereka berbondong-bondong menyerang negara Mandura. Bima ditugaskan melawan serangan musuh, dan berhasil baik. Musuh telah lenyap.
Setelah negara menjadi aman, mereka sidang di istana. Raja Basudewa cemas dan khawatir bahwa Kangsa yang sakti akan menguasai kerajaan dan mengkhawatirkan kedua putranya yang akan menjadi sasaran ambisi Kangsa. Bagawan Abyasa menyarankan agar dua putra raja disembunyikan ke Widarakandang. Raja setuju, agar kedua putranya yang bernama Kakrasana dan Narayana terhindar dari ancaman pembunuhan Kangsa, mereka berdua dititipkan kepada Nyai Sagopi dan Ki Antagopa di Widarakandhang.
Raja Basudewa mengadakan pesta, menjamu para tamu yang hadir di istana Mandura.

Pandjang Mas, Tahun IV 1956: No. 3-4
R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (16) - Kelahiran Arjuna

lukisan tinta pada kertas 50 cm x 60 cm, karya Herjaka HS

Dikisahkan Prabu Basudewa, raja Mandura sedang duduk di atas singhasana, dihadap oleh Raden Ugrasena, Raden Arya Prabu Rukma dan Patih Saragupita. Mereka membicarakan keinginan Dewi Badraini, isteri raja yang minta dicarikan Kidangwulung. Oleh karena itu raja ingin pergi ke hutan Tikbrasara untuk mencari Kidangwulung. Mereka lalu bubaran, bersiap-siap menghantar keberangkatan raja.
Raja Basudewa menemui Dewi Mahendra dan Dewi Badraini, untuk memberi tahu tentang rencana kepergiannya ke hutan Tikbrasara. Raja bersemadi dan berkemas akan pergi berburu. Arya Prabu Rukma, Arya Ugrasena dan patih Saragupita memimpin perajurit pengawal raja. Ugrasena tinggal di negara menjaga keamanan istana.
Di hutan Bombawirayang, Dewi Maherah dihadap oleh Suratimantra, abdi Kepetmega Togog dan Sarawita. Mereka membicarakan perihal kerisauan Dewi Maherah karena kematian Gorawangsa dan bayi dalam kandungannya. Ia minta dicarikan Waderbang Sisik Kencana (Ikan badar merah bersisik emas), pusaka kerajaan Mandura yang diperoleh sejak kelahiran Kakrasana. Suratimantra minta diri bersama Togog, lalu menghimpun perajurit dan menuju ke negara Mandura. Kemudian perajurit raksasa bertemu dengan perajurit Mandura. Terjadilah pertempuran. Perajurit raksasa menyimpang jalan.
Bagawan Abiyasa dihadap oleh Pandu, Yamawidura, Patih Kuruncana dan Kunthi. Kunthi mengajukan permohonan supaya dicarikan Kitiran Seta (Baling-baling Putih) sebagai syarat kelahiran bayi kandungannya. Pandhu ditugaskan untuk mencarikannya. Pandhu segera minta diri. Di tengah perjalanan Pandu bertemu dengan Suratimantra, lalu terjadi perkelahian. Suratimantra menyimpang jalan.
Pandu datang di Karangdhempel, disambut oleh Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Pandhu mengajak para panakawan pergi mencari Kitiran Seta. Mereka berangkat meninggalkan Karangdhempel. Perjalanan mereka masuk ke hutan. Seekor harimau datang menghadangnya. Terjadilah perkelahian antara harimau dengan Pandhu. Harimau musnah dan menjelmalah Dewa Kamajaya. Pandhu menghormat, Kamajaya memberitahu bahwa Kitiran Seta dimiliki oleh Ditya Kalapisaca yang tinggal di Krendhasara. Dewa Kamajaya kembali ke Suralaya. Pandhu dan Panakawan menuju ke Krendhasara.
Raja Basudewa, Arya Prabu dan Patih Saragupita berada di tengah hutan Tikbrasara. Mereka berunding tentang usaha menghalau binatang supaya masuk ke Pagrogolan. Perajurit beramai-ramai menghalau binatang buruan. Banyak binatang terperangkap dalam Pagrogolan, antara lain Kidangwulung. Kemudian Kidangwulung dibawa pulang ke negara Mandura.
Suratimantra berhasil masuk ke taman Randhugumbala di negara Mandura, dan berhasil mencuri Waderbang Sisik Kencana, lalu dibawa ke hutan Bombawirayang
Suratimantra dan Togog menghadap Dewi Maherah. Waderbang Sisik Kencana diserahkan kepada Dewi Maherah. Tak beberapa lama bayi dalam kandungan Dewi Maherah lahir dan diberi nama Kangsa. Kangsa dibawa oleh Suratimantra, agar diakui anak oleh raja Basudewa. Suratimantra dan Kangsa berangkat ke Mandura.
Disebuah gua di hutan Krendhasara tinggalah sepasang raksasa dan raseksi bernama Ditya Pisaca dan Pisaci tinggal di gua. Ditya Pisaci bercerita kepada Kala Pisaca, suaminya, bahwa semalam ia bermimpi kehilangan sebelah matanya. Tiba-tiba datang raja Pandu bersama panakawan, dan minta Kitiran Seta kepada Kala Pisaca. Kala Pisaca mempertahankan Kitiran Seta, terjadilah perkelahian. Kala Pisaca kalah, Pandu berhasil membawa Kitiran Seta, dibawa pulang ke Ngastina. Petruk diminta membawanya. Raja Basudewa, Pandhu dan Arya Prabu kembali ke kerajaan Mandura.R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (15) - Cerita Bima Suci

Written By Paknetyas on Thursday, December 11, 2014 | 4:49 PM


 
Bima masuk ke dalam samodera mencari air suci (karya Herjaka HS)
Bima berguru kepada pendeta Durna. Ia disuruh mencari air yang bisa menyucikan dirinya. Bima lalu ke Ngamarta, memberitahu dan pamitan kepada saudara-saudaranya. Yudisthira diminta oleh ketiga adiknya supaya menghalangi keinginan Bima. Bima tidak dapat dihalangi, lalu pergi berpamitan dan minta petunjuk kepada pendeta Durna.
Bima menghadap pendeta Durna. Pendeta Durna memberitahu, bahwa air suci berada di hutan Tikbrasara. Bima lalu berpamitan kepada raja Doryudanan dan pendeta Durna.
Bima meninggalkan kerajaan Ngastina, masuk ke hutan. Setelah melewati hutan dengan segala gangguannya, perjalanan Bima tiba di gunung Candramuka. Bima mencari air suci di dalam gua dan membongkari batu-batu. Tiba-tiba bertemu dengan dua raksasa bernama Rukmuka dan Rukmakala. Bima diserang. Ke dua raksasa mati dan musnah oleh Bima. Mereka berdua menjelma menjadi dewa Indra dan dewa Bayu. Kemudian terdengar suara, memberi tahu agar Bima kembali ke Ngastina. Di tempat itu tidak ada air suci. Bima segera kembali ke Ngastina.
Bima tiba di Ngastina menemui pendeta Durna yang sedang dihadap oleh para Korawa. Mereka terkejut melihat kedatangan Bima. Semua yang hadir menyambut kedatangan Bima dengan ramah. Pendeta Durna menanyakan hasil kepergian Bima. Bima menjawab bahwa ia tidak menemukan air suci di gunung Candramuka. Ia hanya menemukan dua raksasa dan sekarang telah mati dibunuhnya. Pendeta Durna berkata, bahwa air suci telah berada di pusat dasar laut. Bima percaya dan akan mencarinya. Dengan basa-basi Duryodana memberi nasihat agar Bima berhati-hati. Bima berpamitan kepada pendeta Durna dan Doryudana.
Bima menemui saudara-saudaranya di kerajaan Ngamarta, ia minta pamit pergi mencari air suci.
Yudisthira dan adik-adiknya sangat sedih, lalu memberitahu kepada Prabu Kresna raja Dwarawati. Kresna datang di Ngamarta, memberi nasihat agar para Pandhawa tidak bersedih hati. Dewa akan melindungi Bima. Bima minta diri kepada Kresna dan keluarga Pandhawa. Banyak nasihat Kresna kepada Bima, tetapi Bima teguh pada keinginannya. Para Pandhawa mencoba menghalang-halanginya, tetapi tidak berhasil menahannya.
Bima berjalan menelusuri hutan, kemudian tiba di tepi samodera. Bima mempunyai kesaktian berasal dari “aji sangara.” Dengan berani ia terjun ke dalam samodera. Tiba-tiba seekor naga mencegatnya. Naga membelit Bima, tetapi alhirnya naga mati ditusuk kuku Pancanaka.
Bima tiba di pusat dasar samodera, bertemu dengan Dewa Ruci. Dewa Ruci dapat menjelaskan asal keturunannya Bima dan menyebut sanak saudaranya. Lagi pula Dewa Ruci tahu maksud kedatangan Bima di pusat dasar samodewa. Dewa Ruci memberi nasihat, orang jangan pergi bila tidak tahu tempat yang akan ditujunya. Jangan makan bila belum tahu rasa makanan yang akan dimakannya. Jangan mengenakan pakaian bila belum tahu nama pakaian yang akan dikenakannya. Barang siapa tidak tahu, bertanyalah kepada orang yang telah tahu. Bima merasa hina, lalu minta berguru kepada Dewa Ruci. Bima disuruh masuk ke rongga perut Dewa Ruci. Bima heran mendengar perintah Dewa Ruci. Ia harus masuk melalui jalan mana, bukankah Dewa Ruci lebih kecil dari pada Bima. Dewa Ruci berkata, bahwa dunia seisinya bisa masuk ke rongga perutnya. Bima disuruh masuk lewat lubang telinga kiri. Tibalah Bima di dalam rongga perut Dewa Ruci. Ia melihat samodera besar lagi luas, tidak bertepi. Ketika ditanya, Bima menjawab, bahwa ia hanya melihat angkasa kosong jauh sekali, tidak mengerti arah utara selatan, timur barat dan atas bawah. Ia kebingungan. Tiba-tiba terang benderang, Bima merasa menghadap Dewa Ruci. ia tahu arah segala penjuru angin. Dewa Ruci bertanya tentang sesuatu yang dilihat oleh Bima. Bima menjawab, bahwa hanya warna hitam merah kuning dan putih yang dilihatnya. Dewa Ruci memberi wejangan kepada Bima. Setelah menerima wejangan, Bima merasa senang. Ia tidak merasa lapar, sakit dan kantuk. Ia ingin menetap tinggal di rongga perut Dewa Ruci. dewa Ruci melarang, Bima diwejang lagi tentang hakekat hidup manusia. Sempurnalah pengetahuan Bima tentang hidup dan kehidupan.
Bima telah lepas dari rongga perut Dewa Ruci, lalu minta diri kembali menemui saudara-saudaranya di Ngamarta. Yudisthira mengadakan pesta bersama keluarga menyambut kepulangan Bima.
Yasadipura I, 1928: I-V

Banjaran Cerita Pandhawa (14) - Perkawinam Bima dengan Arimbi

Kisah perjalanan Pandawa Lima yang terdiri dari Yudhisthira, Bima, Arjuna, Pingten dan Tangsen
dalam upayanya menuju hidup abadi yang membahagiaka. (karya Herjaka HS)
Prabu Matswapati raja Wiratha duduk di atas singhasana, dihadap oleh Seta, Untara dan Wratsangka. Raja memperbincangkan pemberian hutan Wanamarta untuk para Pandawa. Untara Wratsangka disuruh membantu para Pandawa. Mereka minta diri, perundingan dibubarkan, raja masuk ke istana.
Prabu Matswapati menemui permaisuri, lalu bercerita tentang pemberian. tempat tinggal di Wanamarta bagi para Pandawa. Mereka lalu bersantap bersama. Seta, Untara dan Wratsangka bersiap-siap berangkat ke Wanamarta. Setelah siap mereka berangkat.
Raja jin bernama Prabu Parta berbicara dengan Gadhing Pangukir. Kerajaan mereka diganggu oleh manusia. Gading Pangukir menyerang manusia, Bima yang menghadapinya. Gading Pangukir mati oleh Bima, lalu bersatu dengan Bima.
Arimbi menghadap Prabu Arimba bercerita tentang mimpinya. Ia bermimpi bertemu dengan Bima. Prabu Arimba diminta mencarikannya. Raja marah, Arimbi dipukuli. Arimbi lari meninggalkan istana. Brajadenta, Brajamusthi dan Brajakesa disuruh mengejarnya. Mereka bersama perajurit mencari jejak Arimbi.
Arjuna dan panakawan berjalan di hutan Wanamarta. Mereka berjumpa perajurit raksasa dari pringgandani utusan Prabu Arimba. Perajurit raksasa dari Pringgandani utusan Prabu Arimba itu musnah, Togog kembali ke kerajaan.
Puspawati anak raja jin bernama Kombang Aliali bermimpi. Dalam mimpi ia bertemu dengan Arjuna. Prabu Kombang Aliali diminta untuk mencarikannya. Raja berangkat, masuk ke hutan dan bertemu dengan Arjuna. Raja Kombang Aliali minta agar Arjuna mau diambil menjadi menantu. Arjuna tidak bersedia, tetapi dapat ditangkap oleh raja jin, lalu dibawa ke kerajaannya, dan dipertemukan dengan Puspawati. Prabu Kombang Aliali minta melihat keris Pulanggeni milik Arjuna. Keris Arjuna diberikan, lalu digunakan untuk bunuh diri. Kombang Aliali musnah, bersatu dengan Arjuna.
Pada waktu lewat tengah malam, Yudhisthira duduk mengheningkan cipta. Tiba-tiba Arimbi datang, menanyakan kesatria yang bernama Bima. Bima dipanggil dipertemukan dengan Arimbi. Yudhisthira menyarankan agar Bima mau memperisteri Arimbi. Bima tidak bersedia memperisterinya sebab Arimbi berujud raksasi.
Bathara Narada datang, menyarankan agar Bima mau memperisteri Arimbi. Bathara Narada mengusap wajah Arimbi, seketika hilang wujud raksasi, Arimbi berubah menjadi manusia cantik. Bima mau memperisteri Arimbi, Bathara Narada kembali ke Kahyangan.
Togog dan Sarawita kembali ke Pringgandani, menghadap Prabu Arimba, melapor tentang kematian para perajurit raksasa oleh Arjuna. Prabu Arimba marah, lalu menyuruh agar Brajadenta mempersiapkan perajurit, pergi ke Wanamarta. Prabu Parta ingin membela kematian Kombang Aliali, lalu pergi ke Wanamarta mencari Arjuna.
Yudhisthira menghadap ibunya bersama Bima dan Arjuna, Anoman datang bersama Basuki, garuda Winantea, Jajahwreka, gajah Lakubanda. Mereka ingin membantu pembukaan Wanamarta.
Prabu Arimba bersama perajurit datang mengamuk, Bima menyongsongnya. Raja Arimba mati oleh Bima, semua perajurit menyerahkan diri.
Pembukaan hutan telah selesai, dibentuk menjadi negara dan bagian-bagiannya. Tempat tinggal bima diberi nama Munggul Mamenang, tempat tinggal Arjuna bernama Madukara, Pinten di Sawojajar dan Tangsen di Bumi Ratawuka. Seluruh Wanamarta menjadi negara Ngamarta, istana Yudhisthira.
Prabu Parta bersama perajurit datang menyerang negara baru. Arjuna menyongsong, Prabu Parta dipanah. Seketika prabu Parta musnah menyatu dengan Arjuna. Terdengar suara, Arjuna supaya menggunakan nama Parta. Kemudian jin perajurit Prabu Parta dihalau oleh Bima.
Yudhisthira mengadakan pesta besar di negara Ngamarta (Mangkunagara VII Jilid IX, 1931:10-14)
R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (13) - Kelahiran Bima (2)





Bratasena dan Yudhisthira menghadap Kunthi ibunya (karaya Herjaka HS)
Si bocah yang baru pecah dari bungkusnya merasa teraniaya hidupnya oleh Gajah Raksasa yang bernama Gajah Sena. Maka anak tersebut kemudian berusaha melawan Gajah Sena. Gajah Sena dibanting dan hancur, musnah dan menyatu dengan anak sakti itu, lalu diberi nama Bratasena. Oleh Narada, Premadi dan Bratasena disuruh kembali ke Ngastina.
Bathara Narada membawa bungkus bayi ke Banakeling, ditaruh di atas batu rata. Bungkus bayi diambil oleh raja Sempani, dan dicipta menjadi bayi. Selanjutnya bayi diberikan kepada Dewi Nandhi, isteri raja Sempani. Seketika payudara Dewi Nandhi keluar air susu untuk menyusui bayi itu. Maka bayi diberi nama Tirtanata. Bayi dimandikan dengan Banyu Gege. Seketika menjadi remaja. Tirtanata bertempat tinggal di Banakeling dan mendapat sebutan Jayadrata.
Kala Bantala telah menghadap raja Karentegnyana di kerajaan Tasikmadu. Surat lamaran diserahkan kepada raja. Raja menolak lamaran raja Batareta, Kala Bantala meninggalkan kerajaan Tasikmadu, dan mengancam kelak akan kembali untuk menyerangnya.
Patih Mandanasraya usul agar raja Tasikmadu minta bantuan kepada raja Ngastina. Raja mencari bantuan, Citrawarsita ditugaskan ke Ngastina.
Patih Kala Bantala melapor kepada raja Kala Dahana, bahwa lamarannya ditolak. Kala Dahana marah, lalu menyiapkan perajurit untuk menyerang negara Tasikmadu dan Ngastina.
Pandu menyambut kedatangannya para Korawa dan Arya Suman. Arya Suman berkata, bahwa kedatangannya disuruh Dhestharata untuk membantu memecahkan bayi nungkus. Tengah mereka berbincang-bincang Premadi dan Bratasena datang. Premadi bercerita tentang pecahnya Bungkus, yang sekarang isi bungkus itu telah ikut menghadap Pandhu. Pandhu merasa bahagia dan senang hati. Arya Suman dan Korawa kecewa, da iri melihat Bratasena yang gagah perkasa itu.
Citrawasesa datang, memberitahu tentang perajurit raksasa dari Bataretayang menyerang Tasikmadu. Pandhu diminta membantunya, lalu menawarkan kepada Bratasena. Bratasena menyanggupinya, lalu berangkat ke Tasikmadu bersama Citrawasita. Premadi minta diijinkan untuk membantu Bratasena. Mereka berangkat ke Tasikmadu, para Korawa minta ijin kembali ke Gajahoya.
Kala Dahana dan perajurit raksasa menyerang negara Tasikmadu. Bratasena dan Premadi menahan serangan musuh itu. Kala Dahana, Kala Bantala, Kala Maruta dan Kala Ranu mati terbunuh oleh Bratasena. Sukma mereka menyatu dengan Bratasena.
Premadi berhasil memusnahkan perajurit raksasa. Perang pun selesai, negara Tasikmadu aman dan damai. Raja Karentegnyana berjanji, kelak akan membantu Pandhawa bila terjadi perang besar.
Pesta kemenangan diadakan di negara Tasikmadu. Keluarga Ngastina diundang untuk ikut berpesta menyambut serta merayakan kemenangan Bratasena dalam memusnahkan musuh yang menyerang Tasikmadu.
R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (12) - Kelahiran Bima (1)


Para Korawa berusaha memecah Bayi Bungkus anak Yudhisthira (karya Herjaka HS)
Raja Dhestharata dihadap oleh Arya Suman dan Patih Sanjaya. Mereka membicarakan anak Pandhu yang lahir, tetapi masih berada dalam bungkus. Bayi berbungkus itu diasingkan ke hutan Krendhawahana. Konon Premadi telah diutus menghadap Bagawan Abiyasa untuk minta pertolongan agar bayi segera keluar dari bungkus. Dhestharata minta agar Arya Suman dan Warga Korawa berusaha ikut memecahkan bungkus. Setelah pertemuan selesai Dhestharata masuk ke istana, memberi tahu kepada permasuri tentang bayi anak Pandhu.
Arya Suman menjumpai para Korawa dan bercerita tentang bayi bungkus. Ia diperintah raja untuk membantu memecahkannya. Dursasana usul agar bayi dalam bungkus dibunuh saja, dengan dalih pura-pura menolongnya.
Kala Dahana raja Batareta dihadap oleh Patih Kala Bantala, Kala Maruta, Kala Ranu dan abdi perempuan bernama Kepet Mega. Raja bercerita tentang mimpinya. Dalam mimpi raja bertemu dengan Citrawarsiti putri raja Karentegnyana di Tasikmadu. Raja Kala Dahana ingin memperisteri putri itu, lalu mengutus Patih Kala Bantala untuk menyampaikan surat lamaran. Patih Kala Bantala segera minta diri, berangkat ke Tasikmadu. Para perajurit raksasa ikut menyertainya. Di tengah perjalanan perajurit raksasa itu bertemu dengan perajurit Korawa. Maka terjadilah perselisihan, mereka bertempur. Perajurit Batareta menyimpang jalan, menghindari perang.
Premadi menghadap Bagawan Abiyasa, ia menanyakan peri hal kakaknya yang masih tinggal di dalam bungkus. Bagawan Abiyasa memberitahu, bahwa bayi dalam bungkus segera akan lahir. Premadi diwejang oleh Sang Bagawan, kemudian disuruh pergi ke hutan Krendhawahana. Premadi minta diri, lalu berangkat ke hutan. Para panakawan menyertainya. Di tengah perjalanan Premadi dihadang oleh beberapa raksasa. Terjadilah perkelahian, raksasa berhasil dikalahkan oleh Premadi.
Bathara Guru dihadap oleh Dewi Uma, Bathara Narada dan beberapa dewa lainnya. Bathara Narada memberi tahu, bahwa gara-gara terjadi karena seorang bayi dalam bungkus, yang tergolek di hutan Krendhawahana. Bathara Guru minta agar Bathara Narada mengajak Gajahsena turun ke Marcapada, membantu kelahiran bayi bungkus. Bathara Narada dan Gajahsena turun ke Marcapada.
Bathara Narada dan Gajahsena tiba di hutan Krandhawahana. Gajahsena diminta untuk memecah bungkus bayi. Bayi dalam bungkus dibanting, maka tiba-tiba dari dalam bungkus larilah seorang anak dewasa lengkap dengan dengan busana dan nampak gagah perkasa. Gajahsena mengejar dan berulang-ulang membanting anak itu, tetapi tidak hancur, bahkan semakin kuat
R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (11) - Perkawinan Yudhisthira

Add captionYudisthira naik kereta menuju Pancalareja (karya : Herjaka HS)
Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sakuni, Dursasana, Kartamarma, Jayadrata, Citraksa dan Citraksi. Pada kesempatan tersebut Raja mengungkapkan niatnya, ingin mengawinkan pendeta Durna. Senyampang ada sayembara untuk merebutkan putri Cempalareja yang bernama Dewi Drupadi Jayadrata ditugaskan untuk mengikuti sayembara di Pancalareja atau Cempalareja atas nama pendeta Durna. Setelah selesai perundingan, raja membubarkan pertemuan, lalu masuk istana.
Prabu Duryodana disongsong oleh permaisuri dan ibunya. Raja bercerita tentang rencana perkawinan pendeta Durna. Mereka makan bersama
Patih Sakuni mengumpulkan para Korawa, mereka diberitahu tentang kepergian ke Pancalareja dan pembagian tugas. Setelah siap mereka berangkat bersama perajurit untuk mengikuti sayembara.
Di negara Umbul Tahunan sang raja Prabu Kala Kuramba juga ingin mengikuti sayembara dan memperisteri Drupadi, putri raja Pancalareja. Raja menugaskan Kala Gragalba untuk menyampaikan surat lamaran. Kala Gragalba disertai Kala Gendhing Caluring, Kala Palunangsa, Wijamantri dan Tejamantri berangkat ke Cempalareja. Perjalanan Kala Gragalba bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, Kala Gragalba dan perjuritnya terdesak, mereka menyimpang jalan.
Yudisthira dihadap oleh Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka menemui Bagawan Abyasa. Begawan Abyasa memberi tahu, bahwa raja Drupada mengadakan sayembara. Yudisthira disuruh mengikuti sayembara itu, Bima diminta mewakilinya. Para Pandhawa menyetujuinya, Arjuna disuruh berangkat lebih dahulu. Arjuna berangkat bersama panakawan. Perjalanan Arjuna bertemu barisan raksasa. Terjadilah perkelahian, perajurit raksasa musnah.
Kakrasana raja muda di Mandura berunding dengan Patih Pragota dan Patih Prabawa. Patih menyetujuinya, Kakrasana segera berangkat.
Di Pancalareja, Prabu Drupada dengan Trusthaketu, sedang membicarakan persiapan sayembara. Patih Sakuni datang, minta ijin untuk mengikuti sayembara, dan akan diwakili oleh Jayadrata. Raja menyuruh agar peserta sayembara hadir di alun-alun. Kemudian raja menyuruh agar Trusthaketu menemui Gandamana memberi tahu, bahwa telah datang peserta sayembara. Gandamana segera pergi ke alun-alun. Jayadrata telah siap menanti. Gandamana dengan sigap menarik Jayadrata, kemudian dibanting. Jayadrata pingsan tidak berdaya, lalu ditarik mundur oleh para Korawa.
Selanjutnya datang Kakrasana yang menyamar sebagai pertapa. Gandamana menghadapi dengan tenang. Kakrasana digertak, terpental jauh dan jatuh terjepit batu. Kakrasana berteriak kesakitan, memanggil-manggil Narayana. Kebetulan Narayana lewat, mendengar panggilan atas dirinya. Batu penjepit diminta kembali, narayana meneruskn perjalanan , hendak menyaksikan sayembara.
Yudisthira sesaudara menghadap Prabu Drupada. Ia minta diperkenankan mengikuti sayembara. Raja merelakan Drupadi untuk diperisteri Yudisthira tanpa harus melalui sayembasara, tetapi Gandamana tidak merelakannya. Bima juga tidak ingin perkawinan tanpa menempuh sayembara.
Bima datang dialun-alun, Gandamana siap melawannya. Mula-mula Bima dapat disergap kuat-kuat,sehingga tidak berdaya. Melihat Bima terdesak, Arjuna dari jauh memberi isyarat agar Bima menggunakan kuku Pancanakanya. Gandamana ditusuk dengan kuku Pancanaka dan jatuh tak berdaya. Sebelum meninggal Gandamana memberikan ilmu kesaktian dan pesan kepada Bima.
Narayana menggugat kemenangan sayembara untuk Yudisthira. Ia bertengkar dengan Arjuna. Trusthajumena datang melerainya, dan mengatakan jika yang bertikai berhasil membunuh Naga yang berada dipohon beringin dialah yang berhak memboyong Drupadi. Mereka mencoba membunuh seekor Naga. Narayana tidak dapat membunuhnya. Panah Arjuna berhasil memusnahkan Naga. Narayana masih belum terima, ia mengajak beradu kesaktian dengan Arjuna. Dan Arjuna meladeni tantangan Narayana. Narayana dipanah oleh Arjuna, terpental jauh, jatuh di luar kerajaan Pancalareja.
Prabu Drupada menyerahkan Drupadi kepada Yudisthira. Upacara perkwinan dan pesta besar akan dilaksanankan di kerajaan Pancalareja. Tiba-tiba raksasa Kala Karamba datang bersama perajurit raksasa. Bima ditugaskan untuk melawan musuh. Raja raksasa mati dan perajurit raksasa musnah tak bersisa.
Prabu Drupada dan para Pandhawa mengadakan pesta perkawinan di istana Pancalareja
Mangkunagara VII jilid IX, 1931:13-1
R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (10) - Kelahiran Yudhisthira






Pertemuan di istana Ngastina, Pandhu dihadap oleh Dhestharata, Widura dan Patih Jayaprayitna. Mereka membicarakan kandungan Kunthi yang telah sampai bulan kelahirannya belum juga lahir. Tengah mereka berunding, Arya Prabu Rukma datang memberi tahu, bahwa negara Mandura akan diserang perajurit dari negara Garbasumandha. Raja Garbasumandha ingin merebut Dewi Maherah. Raja Basudewa minta bantuan. Arya Widura disuruh pergi ke Wukir Retawu dan ke Talkandha, supaya mohon doa restu demi kelahiran bayi. Raja Pandhu akan ke Mandura untuk membantu raja Basudewa dalam menahan serangan musuh.
Raja Pandhu menemui Dewi Kunthi yang sedang berbincang-bincang dengan Dewi Ambika, Dewi Ambiki dan Dewi Madrim. Setelah memberi tahu tentang rencana kepergiannya ke Mandura, Pandhu lalu bersamadi. Kemudian berangkat ke Mandura bersama Arya Prabu Rukma, Dhestharata menunggu kerajaan Ngastina.
Yaksadarma raja Garbasumandha dihadap oleh Arya Endrakusuma, Patih Kaladruwendra, Togog, Sarawita dan Ditya Garbacaraka. Raja berkeinginan memperisteri Dewi Maherah isteri raja Mandura. Ditya Garbacaraka disuruh melamar, Togog menyertainya, Patih Kaladruwendra dan perajurit disuruh mengawal perjalanan mereka.
Perajurit Garbasumandha bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, tetapi perajurit Garbasumandha menyimpang jalan.
Raja Basudewa dihadap oleh Patih Saraprabawa, Arya Ugrasena dan hulubalang raja. Mereka menanti kedatangan Arya Prabu Rukma. Arya Prabu Rukma datang bersama Pandhu. Setelah berwawancara, raja Basudewa masuk ke istana akan menjumpai para isteri. Namun Garbcaraka telah masuk ke istana lebih dahulu, dan berhasil melarikan Dewi Maherah. Dewi Mahendra dan Dewi Badraini kebingungan. Basudewa dan Pandhu datang, Basudewa minta agar Pandhu segera mencarinya. Pandhu segera berangkat meninggalkan kerajaan Mandura.
Pandhu berhasil mengejar Garbacaraka dan merebut Dewi Maherah, lalu dibawa kembali ke Mandura. Setelah menyerahkan Dewi Maherah, Pandhu minta pamit, kembali ke Ngastina, Raja Basudewa mengikutinya.
Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bersenda gurau, kemudian menghadap Begawan Abiyasa. Bagawan Abiyasa sedang berunding dengan Resi Bisma tentang kehamilan Kunthi. Arya Widura datang dan minta sarana untuk kelahiran bayi yang dikandung oleh Kunthi.
Arya Widura disuruh berangkat kembali ke Ngastina, Bagawan Abiyasa dan Resi Bisma segera mengikutinya. Perjalanan Arya Widura dihadang oleh raksasa Garbasumandha. Arya Widura mengamuk, perajurit raksasa banyak yang gugur dan melarikan diri.
Bathara Guru mengadakan pertemuan di Suralaya, dihadiri oleh Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Bathara Dharma dan Bathara Bayu. Mereka berbicara tentang kehamilan Kunthi. Bathara Narada disuruh turun ke marcapada bersama Bathara Dharma, Bathara Panyarikan dan Bathara Bayu. Mereka disuruh memberi pertolongan kepada Dewi Kunthi.
Perjalanan raja Basudewa dan Pandhu berjumpa dengan Patih Kaladruwendra. Terjadilah perkelahian, Kaladruwendra terbunuh ole panah Pandhu.
Raja Yaksadarma dan Endrakusuma menanti kedatangan Garbacaraka. Garbacaraka datang bercerita tentang hasil yang diperoleh, tetapi direbut oleh raja Pandhu. Cerita belum selesai, tiba-tiba kepala Kaladruwendra jatuh dihadapan raja. Yaksadarma marah, lalu mempersiapkan perajurit, akan menyerang negara Ngastina.
Raja Pandhu berbicara dengan Arya Prabu Rukma, Ugrasena, raja Basudewa dan Arya Widura. Arya Widura memberi tahu tentang kesanggupan Bagawan Abiyasa dan Resi Bisma. Tengah mereka berbincang-bincang, Bagawan Abiyasa dan resi Bisma datang. Setelah mereka berdua disambut, lalu diajak masuk ke istana. Bathara Narada dan Bathara Darma datang. Raja Pandhu dan Basudewa cepat-cepat menyambut kedatangan para dewa. Bathara Narada memberi tahu tentang tujuan kedatangannya. Bathara Narada menyuruh agar Bathara Darma merasuk kepada Dewi Kunthi, membimbing kelahiran bayi. Bathara Darma merasuk, bayi dalam kandungan Dewi Kunthi lahir melalui ubun-ubun. Bayi lahir laki-laki. Bathara Narada memberi nama Puntadewa, dan mendapat sebutan Darmaputra. Semua yang hadir menyambut kelahiran sang bayi.
Raja Yaksadarma dan para pengikutnya datang menyerang negara Ngastina. Raja Yaksadarma mati oleh Pandhu, Endrakusuma mati oleh Arya Widura, Garbacaraka mati oleh Arya Ugrasena. Bathara Bayu menghalau semua perajurit raksasa.
Pesta besar di negara Ngastina. (Pandjang Mas Tahun III, 1955 No.9 dan 10)
R.S. Subalidinata.

Banjaran Cerita Pandhawa (9) - Serat Srikandhi Maguru Manah

Srikandhi melatih prajurit (oil pada kanvas 120 cm x 80 cm, karya Herjaka HS 2009)

Serat Srikandhi Maguru Manah karangan Raden Ngabehi Sindusastra (VBG XXXIII No. 167 Th.1874) dikarang dalam bentuk tembang Macapat, berisi cerita tentang perkawinan Arjuna dengan Srikandi. Isi pokok ceritanya adalah sebagai berikut :
Jungkungmardeya raja Paranggubarja mimpi bertemu dengan Srikandhi anak raja Cempala. Raja itu lalu menugaskan Patih Jayasudarga untuk menyampaikan surat lamaran kepada Durpada. Sang Raja menyetujui lamaran itu, tetapi Srikandhi tidak menerima lamaran tersebut. Kemudian Srikandi melarikan diri menuju Madukara, dengan dalih untuk berguru memanah. Namun senyatanya, Srikandhi minta perlindungan kepada Arjuna. Kepergian Srikandhi menyebabkan orang se istana kebingungan. Drupadi mencari Srikandi ke Madukara, untuk meminta kepada Srikandhi agar mau kembali ke istana.
Arjuna berhasil mengalahkan raja Jungkungmardeya dan prajuritnya. Demikian juga Arjuna harus mengusir Korawa yang ingin merebut Sumbadra yang akan dikawinkan dengan Burisrawa. Arjuna berhasil memperisteri Srikandhi, setelah Larasati mampu mengungguli kepandaian Srikandhi dalam hal berolah panah.
Cerita tokoh-tokoh Pandawa secara individu atau kelompok banyak didapat dalam beberapa naskah kumpulan cerita lakon, yaitu cerita prosa yang berisi kerangka cerita sebagai pegangan untuk pementasan pada layar oleh seorang dalang.
Cerita Kelahiran Pandhawa
Cerita kelahiran Pandhawa dimuat dalam kitab Adiparwa. Isi pokok cerita itu sebagai berikut:
Pandhu dinobatkan menjadi raja oleh Bhisma. Ia naik tahta kerajaan untuk melindungi dunia. Negara disekitarnya takluk kepadanya, antara lain negara Magada, Matila, Kasi, Sukma dan Swendra.
Selama menjadi raja Pandhu pernah berburu di hutan yang terletak di gunung Himawan. Kunti dan Madri mengikutinya. Waktu berburu raja melihat kijang jantan dan betina sedang bercumbu-cumbuan. Kijang jantan itu jelmaan Begawan Kindhama yang ingin mencintai kijang betina berwarna putih dan cantik. Kijang yang sedang berwawanasmara itu dipanah oleh Pandhu. Kedua kijang terkena anak panah, musnah bersama. Kemudian didengar suara kutukan. Dikatakan Pandhu amat kejam, tidak menaruh belas kasihan kepada kijang yang sedang bercumbu-cumbuan. Pandhu akan menderita susah, akan mati bila berwawanasmara dengan istrinya. Tetapi Pandhu tidak berdosa meskipun telah membunuh barahmana, sebab ketika dibunuh Kindhama berwujud binatang.
Pandhu menjadi susah, lalu bercerita kepada kedua isterinya Kunti dan Madri ikut menangis dan ikut bersedih hati. Mereka berdua disuruh kembali ke istana, mengikuti Bhisma dan Widura, supaya memberitahu kepada Dhestarastra, Ambika dan Ambalika. Sedangkan Ia akan hidup bertapa. Kedua isteri tidak mau kembali ke negara, mereka mengikuti Pandhu hidup di pertapaan. Mereka melepas pakaian kebesaran dan mengenakan pakaian kulit kayu, menyusuri gunung Nagasthagiri, Citraratawahana, asrama Nagasthama, Indradyumna, Hangsakuta, berakhir di Saptarengga.
Pandhu dan dua isterinya tinggal di Saptarengga. Pada suatu ketika Kunti dipanggil, diberi ajaran masalah darma. Bertapa itu darma, tetapi tidak akan kembali ke sorga. Hasil tapa tidak akan dinikmati oleh orang yang tidak beranak. Maka Pandhu berkesimpulan bahwa tapa mereka tidak berguna, karena mereka tidak beranak.
Pandhu bercerita tentang Saradandayani yang dianugerahi anak karena mengadakan korban mohon anak. Cerita Badra isteri maharaja Wyusitaswa yang rajin memohon karunia anak, yang kemudian mendapat empat anak. Cerita tentang Bagawan Udalaka yang isterinya ditarik tangannya oleh seorang tamu, karena tamu itu tertarik kecantikan isteri tuan rumah. Anak Bagawan Udalaka marah, karena ibunya ditarik laki-laki tamu. Anak Udalaka yang bernama Swetaketu mengutuk dan membuat larangan bagi laki-laki yang mengambil wanita yang masih setia kepada suaminya. Laki-laki yang mengambil isteri orang lain akan mendapat malapetaka. Tetapi seorang isteri yang menurut darma tidak beranak boleh berusaha memperoleh anak, itu tidak mendatangkan sengsara, karena memperoleh anak itu menurut darma.
Mendengar cerita Pandhu itu, Kunthi berkesimpulan, bahwa suaminya akan setuju bila ia berupaya untuk beranak. Ia lalu berkata, bahwwa sejak berguru kepada Begawan Durwasa ia mendapat anugerah ilmu bernama Adityahrdaya. Ilmu tersebut dapat untuk menghadirkan dewa yang mau menganugerahi anak. Maharaja Pandhu senang dan menyetujui usaha isterinya dengan menggunakan ilmu itu.
Pertama Pandu meminta Kunti agar mendatangkan dewa Dharma, agar dikaruniani anak yang mengerti kepada darma. Kunti mengucapkan ilmunya, maka datanglah dewa Dharma. Kunthi mengandung, kemudian melahirkan anak dan diberi nama Yudhisthira. Selanjutnya diminta menghadirkan dewa Bayu, agar memberi anak yang sakti. Kunthi hamil, dan ketika lahir bayi dipangkunya, tiba-tiba datang harimau dari belukar. Kunthi lari, bayi jatuh di batu karena lepas dari pangkuan Kunthi. Batu hancur, pandhu kagum, bayi diberi nama Bimasena. bersamaan dengan kelahiran Bimasena, Gendari mempunyai anak Duryodhana. Usaha yang ketiga, Kunthi mendatangkan dewa Indra. Kunthi hamil. Kemudian lahir bayi yang kemudian dinamai Arjuna. Sewaktu Arjuna lahir, Pandhu berkata kepada Kunti, bahwa anaknya akan sakti dan mempunyai keberanian seperti Arjunasasrabahu.
Madri minta agar diusahakan beranak juga. Atas persetujuan Kunthi, mereka mendatangkan dewa. Yang hadir adalah Aswino, dewa kembar. Madri hamil dan melahirkan anak kembar, diberi nama Nakula dan Sahadewa.
R.S. Subalidinata

Info Penting

Pengetahuan Umum

Olah Rasa

Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah.
***
Jejering wanita utama saka kasetyane marang garwa ,dene ajining priya utama saka kaprawirane.
***

Kadonyan kang ala iku ateges mung ngangsa-angsa golek bandha donya, ora mikirake kiwa tengene, uga ora mikirake kahanan batin.
***

Wong kang ora weruh tatakrama udanegara (unggah-ungguh) iku padha karo ora bisa ngrasakake rasa nem werna (legi, kecut, asin, pedhes, sepet, pahit.***

Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pangeran lan diwelehake dening tumindake dhewe.
***
See all post

Tokoh Pewayangan

Semar dan Punokawan

 Batara Semar  MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu. Yang ada... Read More �

See all post

Adat Istiadat

SURO

Kirab Pusaka Karaton Surakarta Kirap pusaka Karaton adalah tatacara Karaton Surakarta Hadiningrat yang dilaksanakan secara tetap pada se... Read More �

Cerita Pewayangan

Sejarah

Aqidah

Seni dan Sastra

 
Support : Creating Website | | Paknetyas
Copyright © 2011. Blog Paknetyas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Paknetyas
Proudly powered by Blogger