Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label Kawruh Tauhid. Show all posts
Showing posts with label Kawruh Tauhid. Show all posts

Tak kala kabar itu datang

Written By Paknetyas on Thursday, November 17, 2016 | 2:20 PM

1. Jika datang kabar bahagia tentang saudaramu, maka ucapkan alhamdulillah ..... dan hendaknya engkaupun ikut merasa bahagia.

Jangan sesekali engkau hasad kepadanya, apalagi sampai engkau berharap nikmat tersebut hilang darinya.

Jangan sampai engkau meneteskan air mata duka di saat saudaramu tersenyum bahagia

2. Jika datang kabar duka atau musibah yang menimpa temanmu, maka ucapkanlah innalillahi wainna ilaihi raji'un, dan katakan alhamdulillahilladzi 'aafaani minma ibtalaahu bihi....

kemudian datangilah dia, bersedihlah sebagaimana dia bersedih, ringankan bebannya, hibur kesusahannya, dan lapangkan kesempitan darinya.

Jangan sesekali engkau tersenyum bahagia, tatkala saudaramu meneteskan air mata duka....

Senyum bahagiamu...lambang hasad dan kedengkianmu

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ،

Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat (Muslim: 2699).

3. Jika datang kabar kejelekan tentang saudaramu, maka jangan langsung engkau mempercayainya, dan jangan engkau mengubah sikapmu terhadapnya.

Namun Jika ternyata kabar itu benar, maka tutuplah aibnya dan datangilah ia untuk menasehatinya.

من سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ،

Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat (Muslim: 2699).

 Jika engkau menasehatinya, maka perhatikanlah 3 hal:

1. Di mana engkau harus menasehatinya?

2. Kapan engkau harus menasehatinya?

3. Bagaimana caramu dalam menasehatinya?

Jangan sampai engkau menasehati saudaramu di waktu yang tidak tepat, hal itu menyebabkan orang tidak bisa menerima nasehatmu dengan bijak.

Jangan engkau menasehatinya di tempat yang tidak tepat, karena menasehati di tengah umum adalah celaan yang merendahkan.

Dan jangan sampai caramu menasehati saudaramu sebagaimana caramu dalam menasehati bawahanmu....

Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara!
Semoga persaudaraan ini kekal sampai ke jannahNya.

(Sumber : Sosmed)

Falsafah Ronggowarsito

* pitutur yg sangat baik utk mencapai kerendahan hati.
 
_Rejeki iku ora iså ditiru.._

*(REJEKI ITU TIDAK BISA DITIRU)*

_Senajan pådå lakumu_

*(WALAU JALANMU SAMA)*

_Senajan pådå dodolan mu_

*(WALAU JUALANMU SAMA)*

_Senajan pådå nyambut gawemu_

*(WALAU PEKERJAANMU SAMA)*

_Kasil sing ditåmpå bakal bedå2_

*(HASIL YANG DITERIMA AKAN BERBEDA SATU SAMA LAIN)*

_Iså bedå nèng akèhé båndhå_

*(BISA LAIN DALAM BANYAKNYA HARTA)*

_Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati, yaiku sing jenengé bahagia_

*(BISA LAIN DALAM RASA BAHAGIA DAN KETENTERAMAN HATI)*

_Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså_

*(SEMUA ITU ATAS KASIH DARI TUHAN YANG MAHA KUASA)*

_Såpå temen bakal tinemu_

*(BARANG SIAPA BER-SUNGGUH2 AKAN MENEMUKAN)*

_Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå_

*(BARANG SIAPA BERANI BERSUSAH PAYAH AKAN MENEMUKAN KEMULIAAN)*

_Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi_

*(BUKAN BANYAKNYA, MELAINKAN BERKAHNYA YANG MENJADIKAN CUKUP DAN MENCUKUPI)*

_Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså_

*(SUDAH DIGARISKAN OLEH TAKDIR BAHWA SEMUA YANG HIDUP ITU SUDAH DIBERI BEKAL OLEH YANG MAHA KUASA)*

_Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané_

*(JALAN HIDUP DAN REJEKI SUDAH TERSEDIA, DEKAT, SEPERTI UDARA YANG KITA HIRUP SETIAP HARINYA)*

_Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé, nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå_

*(TETAPI KADANG MANUSIA SILAU MATA DAN GELAP HATI, YANG JAUH KELIHATAN BERKILAU DAN MENARIK HATI.. TETAPI YANG DEKAT DIDEPANNYA DAN MENJADI TANGGUNG JAWABNYA DISIA-SIAKAN SEPERTI TAK ADA GUNA)*

_Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati_

*(REJEKI ITU SUDAH DISEDIAKAN OLEH TUHAN, TIDAK BAKAL BERKURANG UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN MANUSIA DARI LAHIR SAMPAI MATI)*
    
_Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet_

*(TETAPI KALAU MENURUTI KEMAUAN MANUSIA YANG TIDAK ADA BATASNYA, SEMUA DIRASA KURANG MEMBUAT RUWET DI HATI DAN PIKIRAN)*

_Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné_

*(PETUAH ORANG TUA, JALANILAH APA YANG ADA DIDEPAN MATA DAN JANGAN TERLALU BERHARAP LEBIH UNTUK YANG BELUM ADA. KALAU MEMANG MILIKMU PASTI AKAN KETEMU, KALAU BUKAN JATAHMU, APALAGI SAMPAI MEREBUT MILIK ORANG MEMAKAI CÀRA TIDAK BAIK, ITU AKAN MEMBUAT HIDUPMU MERANA, SENGSARA DAN ANGKARA MURKA. SEMUA ITU AKAN SIRNA KEMBALI KE ASALNYA)*

_Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé_

*(KALAU SAJA KETENTERAMAN ITU BISA DIBELI DENGAN HÀRTA, ALANGKAH SENGSARANYA ORANG YANG TIDAK PUNYÀ)*

_Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng   tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI,_

*(UNTUNGNYA, KETENTERAMAN BISA DIMILIKI OLEH SIAPA SAJA YANG TIDAK MENGAGUNGKAN KEDUNIAWIAN, SUKA MENOLONG ORANG LAIN DAN MENSYUKURI HIDUPNYA)*

Smg bermanfaat..😊
 
 
(Sumber : Sosmed)

Kawruh Kehidupan

1. Jika Kita Memelihara Kebencian/Dendam,* maka
seluruh 'Waktu & Pikiran' yg kita miliki akan habis begitu saja & kita tidak akan pernah menjadi 'Orang Yang Produktif'.

*2. Kekurangan Orang Lain adalah Ladang Pahala' bagi kita untuk :ka*
» Memaafkannya,
» Mendoakannya,
» Memperbaikinya, dan
» Menjaga Aib-nya.

*3. Bukan Gelar, Jabatan dan kekayaan yg menjadikan 'Orang Menjadi Mulia',* Jika kualitas pribadi kita buruk, semua itu hanyalah 'Topeng Tanpa Wajah'.

*4. Ciri Seseorang (Pemimpin ) itu " Baik'* akan Tampak dari :
» Kematangan Pribadi,
» Buah Karya,
» serta Integrasi antara 'Kata & Perbuatan'-nya.

*5. Jika Kita Belum bisa membagikan Harta atau membagikan Kekayaan,* maka Bagikanlah 'Contoh Kebaikan' karena Hal itu akan 'Menjadi Tauladan'.

*6. Jangan Pernah Menyuruh Orang lain utk Berbuat Baik,* Sebelum Menyuruh Diri Sendiri',
Awali segala sesuatunya untuk kebaikan dari Diri Kita Sendiri.

*7. Pastikan Kita sudah melakukan yg terbaik n  'Beramal' hari ini,* Baik dengan :
» Materi,
» dengan Ilmu,
» dengan Tenaga,
» atau Minimal dgn
'Senyuman yg Tulus'...

*8. Para Pembohong* akan
'Dipenjara oleh Kebohongannya' sendiri.
Orang yg Jujur akan
'Menikmati Kemerdekaan' dalam Hidupnya.

*9. Bila Memiliki 'Banyak Harta', maka Kita lah yg akan 'Menjaga Harta'.*
Namun Jika Kita Memiliki 'Banyak Ilmu', maka Ilmu lah yg akan 'Menjaga Kita'.

*10. Bila 'Hati Kita Bersih',*
Tak ada Waktu untuk :
» Berpikir Licik,
» Curang,
» atau Dengki,
sekalipun terhadap Orang lain.

*11. Bekerja Keras adalah 'Bagian Dari Fisik',* Bekerja Cerdas merupakan 'Bagian Dari Otak', sedangkan Bekerja Ikhlas adalah
'Bagian Dari Hati'.

*12. Jadikanlah setiap 'Kritik'* bahkan 'Penghinaan' yg Kita Terima sebagai 'Jalan Untuk Memperbaiki Diri'.

*13.Kita tdk pernah tahu Kapan* 'Kematian' akan 'Menjemput Kita, tapi yg Kita Tahu  adalah kematian itu pasti datang n seberapa Banyak Bekal yg Kita Miliki untuk Menghadapinya..

Barakallahu fikum ajma'iin..

(Sumber : Sosmed)

Sejatinya Seorang Anak

Menurut Psikolog Laksmi Andhiyani Setiawan S.Psi, ada 13 permintaan anak yg mungkin tidak pernah mereka ucapkan:

1. Cintailah aku sepenuh hatimu.
2. Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku.
3. Cobalah mengerti aku dan cara belajarku.
4. Jangan marahi aku di depan orang banyak.
5. Jangan bandingkan aku dengan Kakak atau adikku atau orang lain.
6, Bapak Ibu jangan lupa, aku adalah fotocopy-mu.
7. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil.
8. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah.
9. Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah padaku.
10. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku.
11. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.
12. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar dari mulutmu adalah doa bagiku?
13. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan "JANGAN" tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu.

"SEMOGA BERMANFAAT.."

(Sumber : Sosmed)

Lelaki beristri Empat

💜Istri ke 1:  Biasa    
                    biasa saja,   
                    biasanya
                    tdk diperha-
                    tikan.
💛Istri ke 2: Agak cakep,
                    agak diper-
                    hatikan.
💙Istri ke 3: Lumayan
                    cakep,
                    diperhati-
                    kan.
💚Istri ke 4: Sangat ca-
                    kep,sangat
                    diperhati-
                    kan dan di-
                    sanjung2
                    dan diuta-
                    makan!

⏰Waktu pun berlalu begitu cepat dan tibalah saat sang lelaki(suami) tersebut mau meninggal,
lalu dipanggilnya ke 4 org istrinya.

💚Dipanggilnya istri ke 4 yg paling cakep dan ditanya,"Maukah kamu ikut menemaniku ke alam kubur?", dia menjawab, "Maaf, cukup sampai di sini saja saya ikut denganmu."

💙Saat dipanggil istri ke 3 dan ditanya hal yang sama, dia pun menjawab,"Maaf, saya hanya akan mengantarmu sampai di kamar mayat dan paling jauh sampai di rumah duka."

💛Kemudian dipanggil istri ke 2 dan ditanya hal yang sama, dia pun menjawab,"Baik, saya akan menemanimu tapi hanya sampai ke liang kubur, setelah itu selamat tinggal."

😭Si suami sungguh kecewa mendengar semua itu. Tetapi inilah kehidupan dan menjelang kematian.

💜Lalu dipanggillah istri ke 1 dan ditanya hal yang sama, si suami tak menyangka akan jawabannya,"Saya akan menemanimu kemanapun kamu pergi dan akan selalu mendampingimu........"

❓Mau tahu siapa istri ke 1 sampai ke 4 itu ?

💚Istri ke 4 adalah "harta dan kekayaan". Mereka akan meninggalkan jasad kita seketika saat kita meninggal.

💙Istri ke 3 adalah "teman- teman" kita. Mereka akan mengantarkan jasad kita hanya sampai di saat disemayamkan.

💛Istri ke 2 adalah keluarga/ famili, saudara dan teman dekat" kita. Mereka akan mengantar kita sampai dikuburkan,  akan meninggalkan kita setelah mayat kita dimasukkan dalam liang kubur dan ditutup dengan tanah.

💜Istri ke 1 adalah "amal dan ibadah " kita selama hidup di dunia.
Karena amal dan ibadah kita inilah yang paling setia mendampingi kita saat menghadap Tuhan . .

Semoga bisa jd renungan kita bersama... 😇😇

(Sumber : Sosmed)

W A K T U

Kalau di masa lalu kita belajar WAKTU a dalah UANG,...
Mulai saat ini kita  belajar : 🙏
"WAKTU  adalah  NAFAS ".
"WAKTU  adàlah IBADAH".

Waktu adalah nafas yang setelah terlewat tidak akan bisa kembali…

WAKTU adalah ibadah karena  setiap detik harus bernilai ibadah. Apa pun aktivitasnya.

Manusia sesungguhnya hanya pengendara di atas punggung usianya.

Digulung hari demi hari, bulan & tahun tanpa terasa.

Nafas kita terus berjalan seiring jalannya Waktu, setia menuntun kita ke pintu kematian.

Sesungguhnya DUNIA lah yang makin kita JAUHI & LIANG KUBUR lah yang makin kita DEKATI.

1 hari berlalu, berarti 1 hari pula berkurang usia kita.

Umur kita yg tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya,

Sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita.

Karena itu, "Jangan biarkan HARI INI  berlalu tanpa KEBAIKAN yang bisa kita LAKUKAN,"

JANGAN tertipu dengan USIA MUDA, krn SYARAT utk MATI tidaklah harus TUA.

*JANGAN terperdaya dgn badan sehat, krn SYARAT  MATI tidak pula harus SAKIT.*

TERUSLAH
Berbuat baik…
Berkata baik…

WALAU tak banyak orang yg mengenali kebaikan kita, tp KEBAIKAN yg kita lakukan adalah KEBAHAGIAAN dimana perbuatan BAIK kita akan terus dikenang oleh mereka yg kelak kita tinggalkan.

*Jadilah seperti AKAR yg TIDAK TERLIHAT, tapi tetap MENYOKONG KEHIDUPAN;*

*Jadilah seperti JANTUNG yg TIDAK TERLIHAT, tapi terus *BERDENYUT setiap saat TANPA HENTI;*
Hingga membuat kita *TERUS HIDUP, sampai BATAS WAKTUNYA utk BERHENTI*.

*_SELAMAT PAGI _*

Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin.... 
Selamat menjalani hari Dan smoga smuanya baik-baik saja

Semoga bermanfaat
Aamiin.

(Sumber : Sosmed)

11 Fase Kehidupan

Ada 11 fase kehidupan manusia dalam falsafah Jawa sbb :

1. Maskumambang

Simbol fase ruh/kandungan di mana kita masih "mengapung" atau "kumambang" di alam ruh dan kemudian di dalam kandungan yang gelap.

2. Mijil

Mijil artinya keluar. Ini adalah fase bayi, dimana kita mulai mengenal kehidupan dunia. Kita belajar bertahan di alam baru.

3. Sinom

Sinom adalah masa muda, masa dimana kita tumbuh berkembang mengenal hal2 baru.

4. Kinanthi

Ini adalah masa pencarian jati diri, pencarian cita2 dan makna diri.

5. Asmaradhana

Fase paling dinamik dan ber-api2 dalam pencarian cinta dan teman hidup.

6. Gambuh

Fase dimulainya kehidupan keluarga dengan ikatan pernikahan suci (gambuh). Menyatukan visi dan cinta kasih

7. Dhandang Gula

Ini adalah fase puncak kesuksesan secara fisik dan materi (dhandang = bejana). Namun selain kenikmatan gula (manisnya) hidup, semestinya diimbangi pula dengan kenikmatan rohani dan spiritual.

 8. Durma

Fase dimana kehidupan harus lebih banyak didermakan untuk orang lain, bukan mencari kenikmatan hidup lagi (gula). Ini adalah fase bertindak sosial. *Dan berkumpul dengan teman2 seperjuangan, bersosialisasi.

9. Pangkur

Ini adalah fase uzlah (pangkur-menghindar), fase menyepi, fase kontemplasi, mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Menjauhkan diri dari gemerlapnya hidup.

10. Megatruh

Ini fase penutup kehidupan dunia, dimana Ruh (Roh) meninggalkan badan (megat: memisahkan). Fase awal dari perjalanan menuju keabadian.

11. Pucung

Fase kembali kepada Allah, Sang Murbeng Dumadi, Sangkan Paraning Dumadi. Diawali menjadi pocung (jenazah), ditanya seperti lagu pocung yang b berisi pertanyaan. Fase menuju kebahagiaan sejati, bertemu dengan yang Mahasuci.

Panjenengan di tahap mana?

Semoga bermanfaat...

(Sumber : Sosmed)

Orang lebih dikenal karena kesalahannya

Seorang Guru menuliskan ini di papan tulis :

5 x 1 = 7
5 x 2 = 10
5 x 3 = 15
5 x 4 = 20
5 x 5 = 25
5 x 6 = 30
5 x 7 = 35
5 x 8 = 40
5 x 9 = 45
5 x 10 = 50

Setelah selesai menulis dia balik melihat murid-muridnya yang mulai tertawa menyadari ada sesuatu yang salah.

Pak gurupun bertanya :
"Mengapa kalian tertawa?"

Serentak mereka semua menjawab :

"Yang nomor satu salaaaahhh Paaakk!" (tertawa bareng).

Sejenak Pak guru menatap muridnya, tersenyum menjelaskan :

"Saya memang sengaja menulis seperti itu agar kalian bisa belajar sesuatu dari ini.

Saya ingin kalian tahu, bagaimana dunia ini memperlakukan kita.

Kaliankan sudah melihat bahwa saya juga menuliskan hal yang benar sebanyak 9 kali, tapi tak ada satupun kalian yang memberi selamat.

Kalian malah lebih cenderung menertawakan saya hanya untuk satu kesalahan.

Hidup ini jarang sekali mengapresiasi hal-hal yang baik bahkan yang kita lakukan ribuan sekalipun.

Hidup ini justru akan selalu mengkritisi kesalahan kita, bahkan sekecil apapun yang kita perbuat."

Ketahuilah anak-anakku :

"Orang lebih dikenal dari satu kesalahan yang ia perbuat, dibandingkan dengan seribu kebaikan yang ia lakukan."

Semoga dari kesalahan kita bisa memperbaiki diri lebih baik lagi."

*sebuah renungan semoga bermanfaat*

NGRACUT BUSANANING MANUNGSO

Written By Paknetyas on Saturday, September 7, 2013 | 5:32 PM



Jika kita pernah membaca Ajaran kehidupan yang sangat lekat dalam khasanah jawa yang dinamakan ” SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU “. Dimana dalam kaweruh tersebut mengulas MAKNA huruf jawa HA, NA, CA, RA,KA sampai dengan NGA yang dimaknai sebagai “ Ngracut Busananing Manungso “ atau Melepaskan, Mengendalikan sang EGO Pribadi manusia. Tiba- tiba saja saya tertegun dengan sebuah Ayat dalam teks book Kitab Suci AQ akan kisah Musa di Lembah Thuwa ( bukit Thursina ) ketika menerima AJARAN KEBENARAN dari Tuhan. Secara tegas dan gamblang Tuhan telah mengajarkan kepada kita bagaimana manusia-manusia bisa berhubungan dengan sang Khaliq yang telukiskan dengan sebuah ISYARAT bagi manusia untuk “ Menanggalkan Terompah “ yang melekat di DIRI manusia. Dan, kesemuanya itu bisa kita cermati dalam kisahnya Musa di bawah ini.

Saat Musa mendekati nyala api itu semakin dekat, Musa mendengarkan suara dibalik api itu sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah teks book Kitab Suci QS. Thaahaa. 11 – 14 :
“ Maka ketika ia datang ketempat api itu ia dipanggil : “ Hai Musa “. Sesungguhnya Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan. Sesungguhnya Akumini adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka mengabdilah ( sembahlah ) Aku, dan dirikanlah shalat untuk berdzikir ( mengingat ) kepada Aku “.

Setelah cahaya itu diperhatikan dengan seksama dengan penuh kesadaran DIRI, ada perintah yang diterima Musa ialah untuk menanggalkan “ sepasang Terompah “ atau alas kakinya. Apa makna yang tersirat dari yang tersurat tentang terompah disini…??. Jika yang dimaksud terompah adalah berupa alas kaki yang sebenarnya dalam bentuk dan wujud fisik ( materi ), maka sebenarnya tak ada alasan lagi untuk dilepaskan. Bukankah pada saat itu telah disebutkan bahwa Musa telah berada di lembah Suci Thuwa..?.

Artinya, Terompah itu mau dilepaskan atau tidak toh tetap saja Musa dan Terompahnya tetap berada di tempat yang Suci..ya..nggak..ya nggak…!!. Dari rangkaian 4 ayat di atas, sebenarnya telah dijelaskan bahwa Terompah itu dilepaskan karena Tuhan telah memilih Musa agar dapat mendengarkan apa-apa yang diwahyukan Tuhan kepada Musa. Terompah macam apa sih kok bisa menghalangi suara Tuhan jika Terompah tersebut tetap dipakai oleh Musa…?. Bukankah Musa telah mendengarkan perintah Tuhan pada panggilan yang pertama kalinya yang pada saat itu Musa masih memakai Terompahnya…?.
Mari kita cermati, pikirkan dan renungkan bersama-sama….!! Kita perhatikan sekali lagi, perintah bahwa Terompah harus dilepaskan agar Musa dapat mendengarkan apa-apa yang diwahyukan oleh Tuhan kepadanya. Apa hubungannya sepasang Terompah dengan Wahyu Tuhan yang akan disampaikan kepada Musa…?.

Berbagai penafsiran dalam memahami ayat ini, banyak para sufi ingin tahu makna dibalik menanggalkan Terompah. Ada yang memahaminya Terompah itu sebagai wujud “ HARTA BENDA, Keluarga “ atau segala bentuk wujud fisik dan materi lainnya. Bukankah keluarga dan domba-dombanya telah ditinggalkan pada saat Musa menghampiri nyala api di lembah Thuwa…?. Dan, Bukankah Musa pada saat itu juga masih memakai baju dan tongkat yang menyertainya…?.
Jika perintah untuk melepaskan sepasang Terompah kita pahami sebatas wujud benda fisik dan meteri, rasanya kok belum pas yah…Lalu apa sebenarnya makna yang bisa dipahami untuk mendekati ketepatan yang tersirat…?.

Bagaimana kalau perintah untuk melepaskan sepasang Terompah tadi kita maknai sebagai bentuk perilaku untuk “ Meluruhkan sang EGO “ yang dalam khasanah Jawa dinamakan “ NGRACUT BUSANA “ atau merupakan wujud “ KEBERADAAN yang FANA ….? “ yakni menanggalkan segala bentuk ke-AKUAN yang ada dalam DIRI Musa baik itu berupa AKAL PIKIRAN dan NALURI. Yah…FANA merupakan suatu keadaan seseorang yang sudah tidak lagi menginginkan “ HASRAT “ keutamaan keindahan, gemerlapnya dunia dan kenikmatan di akhirat.
Seseorang yang sudah berhenti pada stasiun FANA telah berada pada fase kondisi dan keadaan “ Lebur dan Lenyap dalam KEHAMPAAN “ yang ada hanyalah Allah sang Raabul Alamin. Untuk mencapai FANA ini, seseorang haruslah MENGOSONGKAN DIRINYA dari segala macam bentuk ke-AKUAN ( sepasang Terompah ) yang melekat dijasad fisiknya, yaitu MENGOSONGKAN HATI ( batin ) dari berbagai hasrat KEINGINAN LAHIRIAH dan MENGOSONGKAN PIKIRAN daripada khayalan dan lamunan serta impian yang tak terkendali dalam meraih perhiasan duniawi sebagai tujuan pokokrus dilakukan Musa, agar sura-suara Tuhan tadi dapat diterima dengan KEKOSONGAN HATI dan PIKIRAN dari hasrat dan ilusi yang digambarkan dalam bentuk “ KIASAN “ sebagai wujud sepasang Terompah.

Hati yang suci dan pikiran yang bersih, merupakan cerminan bagi Sang ILLAHI. Hanya dalam hati yang suci dan pikiran yang bersihlah QALAM Illahi akan dapt terukir dan terekam dengan sejelas-jelasnya. Dalam keadaan seperti itu segala kehendak-Nya akan dapat terbaca dan didengar jika kita telah melepaskan Terompah kita yang berupa “ Pengosongan HATI dan PIKIRAN “ agar Firman, sabda atau wahyu Tuhan yang disampaikan kepada kita.
Fana dalam penyatuan DIRI dengan Allah itu hanya berhasrat kepada-Nya, tidak perduli lagi dengan gemerlap dan keindahan duniawi dan akhirat. Pada tahapan ini seorang pejalan spiritual ( rohani ) akan melepaskan “ KESADARANNYA “ terhadap keadaan Fana. Ia akan melepaskan KETERIKATANNYA dengan Fana. Yang pada akhirnya terbebaskan dari tingkatan dan maqam Fana menuju pencapaian keadaan “ PENIADAAN atas KETIADAAN “ yang ADA hanyalah DIA Yang Maha Mutlaq, Dial ah Tuhan Al Haq.
Fana dalam kehampaan, dan tiada lagi suatu apapun yang berdiri tegak disamping-Nya, yang ADA hanyalah Wajah Yang Maha Suci dan tiada lagi yang KEKAL ABADI selain Wajah-Nya Yang Maha Mulia dalam balutan Wujud Dzat-NYA. (JELAJAH HIKMAH)

Pinter lan Bejo

Written By Paknetyas on Friday, June 21, 2013 | 2:29 PM



Pinter lan Bejo


Wong pinter ono gurune bermakna bahwa jika seseorang ingin atau berharap agar menjadi pinter/pandai maka ia haruslah berusaha mencari guru yang sesuai yang bisa mengantarkan dirinya menjadi orang yang pinter. Ketahuilah bahwa pinter adalah wilayah pikiran /otak,maka jika ingin pinter isilah otak/pikiran dengan sebanyak-banyak ilmu dengan selalu berguru kepada cerdik pandai.



Sedangkan jika seseorang ingin agar dirinya selalu beruntung (bejo) maka tidak akan menemukan seorang guru pun yang dapat menganterkan seseorang menjadi seorang yang selalu beruntung.Yang bisa dilakukan hanyalah sebanyak-banyaknya mengisi ruang hati dengan dzikir kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya dan tanpa putus ,sebab keberuntungan ada di wilayah hati.



Sedangkan barang siapa ( bermakna tidak sembarang orang), bisa atau mampu menggabungkan keduanya (antara usaha untuk pinter dan untuk beruntung),maka akan menjadikan seseorang itu meningkat kehidupan agamanya.Jika meningkat sadaran beragamanya maka akan meningkat pula kesadaran beribadahnya,jika demikian maka akan meningkat juga kesadaran sosialnya.maka hanya orang yang pinter dan beruntunglah yang mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi dalam beribadah dan beramal.


Sudahkah kita pada posisi sedemikian ? Jika belum ,marilah kita tingkatkan kepinteran dan dzikir kita agar selalu beruntung.Aamiin yaa Robbil ‘alamiin

Suluk Linglung Sunan Kalijaga Ngemot Tauhid lan Makrifat

Written By Paknetyas on Tuesday, June 11, 2013 | 12:49 PM

Anyar KatonBabadFlash - Posted by admin on March 9, 2012
Makame Kanjeng Sunan Bonang ing Tuban


Sunan Kalijaga, mujudake manggala, saka saweneh Wali Sanga, kang kaloka raket kelawan kaum muslim, karana ka­wegigane nglebokake pengaruh Islam, ing jroning tradhisi jawa.Akeh kang nela­kake, yen Kanjeng Sunan Kalijaga iku, yus­wa­ne, luwih saka 100 taun. Sunan Kalijaga kagungan andhil, sajrone peme­rintahan Majapahit, Kasultanan Demak, Kasultanan Cirebon, apadene Banten. Malah-malah uga Krajan Pajang, kang lair taun 1546, sarta kawitaning Krajan Ma­taram, kang pinarentah dening Panem­bahan Senopati.Kanjeng Sunan uga ndhe­rek ngrancang pembangunan Masjid Agung Demak. Saka “tatal”, mujudake sa­weneh pilar utama Masjid, mujudake kreasi Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga miyos, udakara taun 1450, kanthi asma Raden Said. Kanjeng Sunan, putra saka adipati Tuban, kekasih Tumenggung Wilatikta (ana saweneh kang nyebutake Wilwatikta), utawa Raden Sahur. Sunan Kalijaga, uga kagungan asma seje, kayadene: Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, apadene Raden Abdurrahman.
Bab asal-usul Kanjeng Sunan, ana sawetara penemu. Ana kang mratelakake, yen Kanjeng Sunan iku maksih keturunan Arab. Nanging, uga ora sithik, kang nan­dhesake, yen Kanjeng Sunan Kalijaga iku, Jawa asli. Van Den Berg, nelakake, yen Kan­jeng Sunan Kalijaga iku, (pancen) ke­turunan Arab, kang sarasilahe, nganti tekan Rasulullah SAW. Sawetara iku, mi­turut Babad Tuban, nelakake, yen Aria Teja aliyas “Abdul Rahman, wus kasil ng-Islam-ake Adipati Tuban, Aria Dikara, lan nikahi putrane. Saka perkawinan kasebut, nglair­ake putra, sesilih Aria Wilatikta. Miturut cathetan Tome Pires, panguwasa Tuban, taun 1500 Masehi, mujudake wayah saka panguwasa Islam kawitan, ing Tuban. Sunan Kalijaga aliyas Raden Mas Said, putra saka Aria Wilatikta. Sejarawan seje, kayadene De Graaf, mbenerake, yen Aria Teja, kagungan sarasilah kelawan Ibnu Abbas, paman dalem Kanjeng Nabi Muhamad SAW.

Suluk Linglung
Suluk Linglung riptane Kanjeng Sunan Kalijaga, awujud Sekar Kinanthi, sapupuh, kedadeyan saka 7 pada. Watake Sekar Kinanthi, yaiku: seneng, tresna, mathuk kinarya mulang-muruk, apadene sipat ang­gulawenthah, kang ngemu rasa tresna. Saperangan gedhe, galihing tembang kasebut, ngemot rasa Tauhid apadene Makrifat Dene Suluk Linglung kang wujud Tembang Kinanthi mau, yaiku:

Pada 1.
Birahi ananireku/aranira Allah jati/ tan ana kalih tetiga/ sapa wruha yen wus dadi/ ingsun weruh pesthi nora/ ngarani namanireki.
Saka kersa dalem Allah, andadekake wujudira, kanthi anane wujudira, mra­tandhani bab anane Allah kanthi sayekti. Mokal Allah iku sipat loro, apamaneh nganti cacah telu. Sok sopoa kang wus mangerteni sangkan paraning anane, mesthi iku wong mokal nedya nyungarake dhirine.

Besetane:
Yen Allah ngersakke sawiji-wiji, mung ngendika”kun-fayakuun”, mangka banjur ana wujud. Saweneh saka sipat wajib Allah, kang 20, kang sepisanan aran “Wujud”, kang maknane Allah iku ana. Allah minangka “Sang Kholiq”, dene ma­nungsa minangka (saweneh) “Makhluq” Kholiq, tegese kang nyipta, Makhluq, ka­siling ciptan. Ing kawitaning Surat Ikhlas, yen katerjemahake, maknane”Dhawuha sira Muhamad, yen Allah iku siji”. Dadi mokal, yen Allah iku ana loro, utawa telu. Ing kene diajap, manungsa supaya kuma­wula, lanngabekti/ngibadah marang Allah. Ing Surat Adz-Dzariyat, ayat 56, Allah paring dhawuh:”Lan Ingsun nyipta jin lan manungsa, mung supaya padha nyem­bah marang Ingsun”.
Ing kene mengku werdi, yen ma­nungsa minangka titah, kudu pana, lan rumangsa, yen ana kang anitahake. Ma­nungsa cinipta minangka makhluk kang saendah-endahe makhluk.Nanging yen ora pinter njaga drajat ke-insaniyahan-e, bakal didhunake sacendhek-cendheke drajat titah. Kejaba kang iman lan gelem ngamal sholeh.

Pada 2.
Sipat jamal ta puniku/ingkang kinen angarani/ pepakane ana ika/ akon ngarani puniki/ iya Allah angandika/ mring Muhamad kang kekasih.

Besetane:
Satuhune sipat bagus utawa endah tur pinuji, iku, yaiku sipat kang tansah mbu­didaya nyebutake, yen hakikate, anane dheweke, karana ana kang maujudake. Mangkono pangandikane dalem Allah, marang Muhamad kekasih Dalem. Allah iku Maha Endah, lan remen (marang) ka­endahan. Yen gelem metani kanthi njli­met, yektine ing saben epek-epeking ma­nungsa kiwa lan tengen iku, tinemokake angka Arab 18 lan 81, kang yen ka­gung­gung, ana 99, yaiku kang aran ”Asma’ul Husna”.

Pada 3.
Yen tan ana sira iku/ ingsun tan ana ngarani/ mung sira ngarani ingwang/ dene tunggal lan sireki/ iya ingsun iya sira/ aranira aran mami

Besetane:
Yen tan ana sipat titah, ya durung katon araning sipat kang hanitahake. Karana ana sipating titah, banjur ketemu kang hanitahake. Gampanging kandha, ana wujud barang, mesthi ana kang nyipta, utawa ana kang gawe. Karana ananing sira (kang wujud manungsa), mangka ya manungsa kang nyebut marang Ingsun. Ya Ingsun Allah kang nyipta sira (kang wujud manungsa). Wujudira, mracihna­kake wujud Ingsun (Allah).
Kita minangka titah, kudu eling ma­rang kang hanitahake. Keplasing tumrap tata ngelmu pasrawungan sosial, yen sira rumangsa tinuntun dening lelabuhaning sepadha-padha, sawise sira kasil dadi wong kang mulya, aja lali marang lelabuh­an kasebut, (senajan upamane, kang lelabuh, ora njaluk pinwales). Ana unen-unen, yen sira ngeyub ana sangisor­ing wit kang gedhe (tur eyub), aja lali marang kang nandur wit kasebut.

Pada 4.
Tohid hidayat sireku/ tunggal lawan Sang Hyang Widhi/ tunggal sira lawan Allah/ uga donya uga akhir/ rumangsa­nana pangeran/ ya Allah ananireki.

Besetane:
Pituduh bab anane Allah Kang Sipat Siji, iku nyawiji apadene manunggal marang Allah, tansah cecaketan marang Allah (taqarruban illallah), iman iku nalika isih ana alam donya, apadene mengkone sawise ana alam kasedan jati. Lan kudu rumangsa yen Allah iku ana ing hangga­nira.
Pada iki mengku pasemon, yen sawise katitahake, manungsa kudu manembah marang kang hanitahake. Yaiku kanthi mbudidaya, tansah nindakake apa dhawuh dalem Allah, lan mbudidaya, nyingkiri, apa kang dilarang dening Allah, lan yaiku kang ingaran taqwa. Allah iku didohi, ya sang­saya adoh, dicedhaki, ya sangsaya cedhak. Tembung manunggal, utawa nyawiji, ing kene mengku werdi, supaya manungsa tansah cecaketan marang Allah, tegese tansah eling (dzikir) marang Allah, wiwit ana donyane, jalaran, sawise mati, wus mung kari nampa wohing pakarti nalika ana donyane. Kabeh pakarti kang ana donya, bakal diundhuh ana akherat.

Pada 5.
Ruh idhofi neng sireku/ makrifat ya den arani/ uripe ingaran syahdat/ urip tunggil jroning urip/ sujud rukuk panga­sonya/ rukuk pamore Hyang Widhi.

Besetane:
bab Ruh Idhofi. Ing jagading Ngelmu Kebatinan, ing jroning badaning manungsa tinemokake ruh cacah 9, yaiku Ruh Idhofi, Ruh Robbani, Ruh Rohani, Ruh Nurani, Ruh Kudus, Ruh Rohmani, Ruh Jasmani, Ruh Nabati lan Ruh Haya­wani. Dene tembung Makrifat. Makrifat, yektine saka aksara Arab, utawa panulise Ma’rifat. Ma’rifat, saka tembung ya’rifu-irfan- ma’rifat, kang tegese kawruh, utawa pengalaman.
Nanging uga bisa dimaknani kawruh bab rahasia hakikating agama, yaiku ngelmu kang luwih manjila, katimbang ngelmu padatan umume, mligine, kang magayutan, kelawan batiniyyah. Uripe ing­aran syahdat. Tinulis, “syahdat”, (wutuhe “syahadat”), karana kanggo njum­buhake guru wilangan, ing saben gatra, tumrap tembang kasebut, ing kene mengku teges, manungsa minangka seksi, apadene anekseni, yen setuhune ora ana pangeran kejaba Allah, lan Nabi Muhamad minangka utusan Allah. Sawise ngucapake kalimah syahadat Tauhid lan syahadat Rasul, urip tunggil jroning urip, uripe, yekti mung angakoni syarengat sawiji, banjur, sujud rukuk pangasonya. Tegese, pepaese, kanthi nindakake pang­ibadahan kanthi sholat. Nindakake sholat, ateges, (mbudidaya), tansah cecaketan kelawan Allah SWT.

Pada 6.
Sekarat tan ana nyamur/ ja melu, yen sira wedi/ lan ja melu-melu Allah/ iku aran sakaratil/ ruh idhofi mati tan na/ urip mati mati urip.

Besetane:
Ruh Idhofi, uga winastan “Johal awal suci”. Manut kapitayan, ya karana Ruh Idhofi, manungsa bisa urip. Yen Ruh ka­sebut, uwal saka badane manungsa, mangka manungsa bakal nemahi tiwasRuh kasebut, mujudake Ruh utama, kang duwe wenang mrentah ruh sejene. Mula ing ngarep kasebutake “tan ana nyamur”, tegese ora sisib. Ja melu yen sira wedi.Ana unen-unen “Yen wedi aja wani-wani, yen wani, aja wedi-wedi”. Iku nari karep­ing ati. Yen ana piweling lan ja melu-melu Allah, tegese, yen nedya “melu” Allah, ya aja nganggo mamang, tegese, temen-temen ndherek dhawuh, lan nyingkiri larang­an. Sakaratil, yaiku titimangsa, tetkala­ne manungsa meh ajal. Ya iku kang padha diwedeni. Nanging, tumrap kang wus iman, anane mung pasrah, karana umur manungsa, iku uga kagungan Ndalem Allah. Urip mati, mati urip. Ing kene, jlentrehe, yektine mati iku, dudu pungkasaning urip, nanging purwakaning urip langgeng. Tegese, ing mengkone, sawise mati, bakal ana urip candhake, yaiku alam seje kang langgeng, nalika ma­nungsa tekan titimangsa ngundhuh wohing pakarti nalika ana donya, ya kang ingaran alam akherat. Ing kana ma­nungsa bakal nampa siksa apa nugraha, gumantung pokale.

(Ana Candhake)
Winastan Suluk Linglung
Raden Mas Said, ya Kanjeng Sunan Kalijaga, nalika iku, wus golong-gilig penggalihe, nedya ngupadi ngelmu kang dadi gegebengane para Nabi. Lan kasumyatan Sunan Kalijaga nalika iku, wus kasil mancat tataran tauhid kang dhuwur.
“Lurua ngelmu, senajan kudu nyabrang segara geni…!!” ngono dhawuh dalem Kanjeng Nabi. Raden Mas Said, nalika semana, penggalihe, tinalasak rasa mamang lan bingung. Kayadene Linglung lan kalimput penggalihe. Jalaran, kabeh ngelmu kang wus dimangerteni, dipahami, lan dingamalake, kanthi kebak rasa kumawula marang Allah, nanging Raden Mas Said (rumangsa) isih gampang kagiri godha dening napsune, lan (malah), kayadene, ora kuwawa nduwa. Maneka werna kupiya, wus katindakake, murih uripe mengkone, bisa nglerem pamothahing napsune, aja nganti nglantur, kang mung kayadene rumangsa marem, mung dhahar lan sare Nanging Raden Mas Said, tetep wae, kayadene, penggalihe kalah perang nglawan napsune. Puntone Kanjeng Sunan pasrah marang Allah, karana ya mung Allah, minangka pungkasaning pepasrah.
Kanjeng Sunan nyuwun marang Allah, supaya penggalihe enggal kabukak, murih penggalihe dadi istiqomah, jumbuh kelawan pangajabing penggalih, tumuju menyang dalan sembahlan puji. Kanjeng Sunan tan kendhat tansah manekung kebak ing pandonga, senajan sinartan rasa-rumangsa, yen manungsa, ora bisa uwal saka dosa, kang tinindakake duk rikala taruna, kang mbokmenawa Allah durung kepareng paring pangapura. Senajan wus sawetara anggone nindakake bab kasebut, ewasemono, kok kayadene durung ana pratandha yen dongane pinaringan Kabul. Tundone Kanjeng Sunan mawar-dhiri. Yagene kok laku-lampah kang kang wus katindakake semono lawase, kok hidayah saka ngersa dalem Allah durung tumurun. Apa ana saweneh laku-lampah kang luput?
Tekan tataran wektu kasebut, Kanjeng Sunan anane mung kendel/ meneng. Piyambake banjur “uzlah” (ninggalake prekara donyawiyyah). Woh saka laku-lampah kang keri iku, kaya dene ana wewisik. Ing penggalihe, kayadene ana suwara cacah loro kang dumeling, yaiku siji suwara Malaikat, siji suwara syetan, kang padha pepadon. Senajan suwara mau serone ora kaya lumrahe pepadon, nanging kukuh ora ana lerene. Kanjeng Sunan uga sadhar, yen perkara ala lan becik iku, wus sak pase, yen padha rebut papan, rebut unggul.
Gandheng rumangsa yen laku-lampah uzlah, durung ana tandha-tandha yen tumurun pituduhe Allah, tundhone Kanjeng Sunan anteb-anteban, nedya nindakake laku ngothongake padharane, tegese nindakake ngelih-ngelak. Bubar iku, Kanjeng Sunan protes lan nagih marang Allah “opahe” laku-lampah kasebut. Nanging Allah kayadene mung kendel, ora paring jawaban.
“Lha iya wus samesthine ta ya, yen aku nagih marang Allah, sengara kaparingan wangsulan, wong Allah pancen ora utang…!! Lha ya sengara nglunasi ta ya,… wah…!!!” ngono pangandikane ana penggalihe Kanjeng Sunan. Puntone Kanjeng Sunan mutusake, yen nedya meguru marang Sunan Bonang. Temenan. Kanjeng Sunan sawise iku, banjur nindakake laku sumingkir, ing desa Bonang. Kanjeng Sunan banjur nglebur tapak asta, lan nyuwun supaya didunungake marang hakekating urip kang haqiqi. Dening Sunan Bonang, Sunan Kalijaga kadhawuhan mangsah semedi, nindakake tapa-brata, sarana nunggoni wit gurda, lan ora dikeparangake jugar, sadurunge kadhawuhan jugar.
Wiwit wektu iku, kanjeng Sunan, dadi priyayi kang tuhu ngedap-edapi. Kekarepane kang teguh santosa, kang tanpa kendhat ambudidaya, mula ora mokal, karana idin saka Ngarsa Dalem Allah SWT. Wiwit iku uga rasa “ling-lang-ling-lung” baka sithik bisa uwal saka hanggane Kanjeng Sunan.
Kejaba iku, karana Kanjeng Sunan uga maksih turun priyayi adharah luhur, yaiku putra saka Kanjeng Adipati Tuban, ya panjenengane Wilatikta. Ya karana kawitane saka rasa“ling-lang-ling-lung”, mula wewarah kasebut winastan Suluk Ling-lung.


Anyar KatonBabadFlash - Posted by admin on March 20, 2012
Makam Sunan Kalijaga, ora sithik kang padha sujarahan

Raden Mas Said, ya Kanjeng Sunan Kalijaga, nalika iku, wus golong-gilig penggalihe, nedya ngupadi ngelmu kang dadi gegebengane para Nabi.
 Lan kasunyatan Sunan Kalijaga nalika iku, wus kasil mancat tataran tauhid kang dhuwur.
“Lurua ngelmu, senajan kudu nyabrang segara geni…!!” ngono dhawuh dalem Kanjeng Nabi. Raden Mas Said, nalika semana, penggalihe, tinalasak rasa mamang lan bingung. KayadeneLinglung lan kalimput penggalihe. Jalaran, kabeh ngelmu kang wus dimangerteni, dipahami, lan dingamalake, kanthi kebak rasa kuma­-wula marang Allah, nanging Raden Mas Said (rumangsa) isih gampang kagiri godha dening napsune, lan (malah), kayadene, ora kuwawa nduwa. Maneka werna kupiya, wus katindakake, murih uripe mengkone, bisa nglerem pamo-thahing napsune, aja nganti nglantur, kang mung kayadene rumangsa marem, mung dhahar lan sare Nanging Raden Mas Said, tetep wae, kayadene, penggalihe kalah perang nglawan napsune. Puntone Kanjeng Sunan pasrah marang Allah, karana ya mung Allah, minangka pungkasaning pe-pasrah.
Kanjeng Sunan nyuwun marang Allah, supaya penggalihe enggal ka-bukak, murih penggalihe dadi istiqo-mah, jumbuh kelawan pangajaping penggalih, tumuju menyang dalan sembah lan puji. Kanjeng Sunan tan kendhat tansah manekung kebak ing pandonga, senajan sinartan rasa-ru-mangsa, yen manungsa, ora bisa uwal saka dosa, kang tinindakake duk rikala taruna, kang mbokmenawa Allah du-rung kepareng paring pangapura. Se-najan wus sawetara anggone nindaka-ke bab kasebut, ewasemono, kok kaya-dene durung ana pratandha yen dongane pinaringan Kabul. Tundhone Kanjeng Sunan mawas-dhiri. Yagene kok laku-lampah kang kang wus katindakake semono lawase, kok hida-yah saka ngersa dalem Allah durung tumurun. Apa ana saweneh laku-lam-pah kang luput?
Tekan tataran wektu kasebut, Kan-jeng Sunan anane mung kendel/me-neng. Piyambake banjur “uzlah” (ning-galake prekara donyawiyyah). Woh saka laku-lampah kang keri iku, kaya dene ana wewisik. Ing penggalihe, kayadene ana suwara cacah loro kang dumeling, yaiku siji suwara Malaikat, siji suwara syetan, kang padha pepadon. Senajan suwara mau serone ora kaya lumrahe pepadon, nanging kukuh ora ana lerene. Kanjeng Sunan uga sadhar, yen perkara ala lan becik iku, wus sak pase, yen padha rebut papan, rebut unggul.
Gandheng rumangsa yen laku-lam-pah uzlah, durung ana tandha-tandha yen tumurun pituduhe Allah, tundhone Kanjeng Sunan anteb-anteban, nedya nindakake laku ngothongake padhara-ne, tegese nindakake ngelih-ngelak. Bubar iku, Kanjeng Sunan protes lan nagih marang Allah “opahe” laku-lam-pah kasebut. Nanging Allah kayadene mung kendel, ora paring jawaban.
“Lha iya wus samesthine ta ya, yen aku nagih marang Allah, sengara kapa-ringan wangsulan, wong Allah pancen ora utang…!! Lha ya sengara nglunasi ta ya,… wah…!!!” ngono pangandikane ana penggalihe Kanjeng Sunan. Punto-ne Kanjeng Sunan mutusake, yen nedya meguru marang Sunan Bonang. Temen-an. Kanjeng Sunan sawise iku, banjur nindakake laku sumingkir, ing desa Bonang. Kanjeng Sunan banjur nglebur tapak asta, lan nyuwun supaya didu-nungake marang hakekating urip kang haqiqi. Dening Sunan Bonang, Sunan Kalijaga kadhawuhan mangsah semedi, nindakake tapa-brata, sarana nunggoni wit gurda, lan ora dikeparangake jugar, sadurunge kadhawuhan jugar.
Wiwit wektu iku, kanjeng Sunan, dadi priyayi kang tuhu ngedab-edabi. Kekarepane kang teguh santosa, kang tanpa kendhat ambudidaya, mula ora mokal, karana idin saka Ngarsa Dalem Allah SWT. Wiwit iku uga rasa “ling-lang-ling-lung” mbaka sithik bisa uwal saka hanggane Kanjeng Sunan.
Kejaba iku, karana Kanjeng Sunan uga maksih turun priyayi adharah luhur, yaiku putra saka Kanjeng Adipati Tuban, ya panjenengane Wilatikta. Ya karana kawitane saka rasa“ling-lang-ling-lung”, mula wewarah kasebut winas-tan Suluk Ling-lung. (Cuthel)

(Sumber : Majalah Panjebar Semangat)

Info Penting

Pengetahuan Umum

Olah Rasa

Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah.
***
Jejering wanita utama saka kasetyane marang garwa ,dene ajining priya utama saka kaprawirane.
***

Kadonyan kang ala iku ateges mung ngangsa-angsa golek bandha donya, ora mikirake kiwa tengene, uga ora mikirake kahanan batin.
***

Wong kang ora weruh tatakrama udanegara (unggah-ungguh) iku padha karo ora bisa ngrasakake rasa nem werna (legi, kecut, asin, pedhes, sepet, pahit.***

Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pangeran lan diwelehake dening tumindake dhewe.
***
See all post

Tokoh Pewayangan

Semar dan Punokawan

 Batara Semar  MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu. Yang ada... Read More �

See all post

Adat Istiadat

SURO

Kirab Pusaka Karaton Surakarta Kirap pusaka Karaton adalah tatacara Karaton Surakarta Hadiningrat yang dilaksanakan secara tetap pada se... Read More �

Cerita Pewayangan

Sejarah

Aqidah

Seni dan Sastra

 
Support : Creating Website | | Paknetyas
Copyright © 2011. Blog Paknetyas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Paknetyas
Proudly powered by Blogger