AKHLAK & ETIKA BEKERJA DALAM ISLAM
Written By Paknetyas on Wednesday, October 16, 2013 | 10:22 AM
AKHLAK
& ETIKA BEKERJA
DALAM ISLAM
Bekerja Sebagai Satu Kewajiban Seorang Hamba Kepada Allah
SWT
•
Allah SWT memerintahkan bekerja kepada setiap hamba-hamba-Nya (QS. Attaubah/ 9 : 105) :
وَقُلِ
اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
فَيُنَبِّئُكُمْ
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan katakanlah:
"Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui
akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".
•
Seorang insan minimal sekali diharuskan untuk dapat memberikan nafkah kepada dirinya sendiri, dan juga kepada keluarganya.
•
Dalam Islam terdapat banyak sekali ibadah yang tidak mungkin dilakukan tanpa biaya & harta, seperti zakat, infak, shadaqah, wakaf, haji dan umrah. Sedangkan biaya/ harta tidak mungkin diperoleh tanpa proses kerja. Maka bekerja untuk memperoleh harta dalam rangka ibadah kepada Allah menjadi wajib. Kaidah fiqhiyah mengatakan :
مَالاَ
يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Suatu kewajiban yang tidak bisa dilakukan melainkan dengan pelaksanaan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib.
Keutamaan (Fadhilah) Bekerja Dalam
Islam
•
Orang yang ikhlas bekerja akan mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :
مَنْ
أَمْسَى كَالاًّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ (رواه
الطبراني)
Barang siapa yang sore
hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. (HR.
Thabrani)
•
Akan diampuninya suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, zakat, haji & umrah. Dalam sebuah riwayat dikatakan :
إِنَّ
مِنَ الذُّنُوْبِ لَذُنُوْبًا، لاَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاةُ وَلاَ الصِّياَمُ وَلاَ
الْحَجُ وَلاَ الْعُمْرَةُ، قَالَ وَمَا تُكَفِّرُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ
الْهُمُوْمُ فِيْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ (رواه الطبراني)
‘Sesungguhnya
diantara dosa-dosa itu, terdapat satu dosa yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa, haji dan umrah.’
Sahabat bertanya, ‘Apa yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Semangat dalam mencari rizki.’ (HR. Thabrani)
•
Mendapatkan ‘Cinta Allah SWT’. Dalam sebuah riwayat digambarkan :
إِنَّ
اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ (رواه الطبراني)
Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu’min yang giat bekerja.
(HR. Thabrani)
•
Terhindar dari
azab neraka
Dalam sebuah riwayat dikemukakan, "Pada suatu
saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru
kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa'ad yang melepuh, kulitnya
gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya,
'Kenapa tanganmu?' Saad menjawab, 'Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini
untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku." Kemudian Rasulullah
SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, 'Inilah tangan yang
tidak akan pernah disentuh oleh api neraka'" (HR. Tabrani)
Rumusan Bekerja Dalam Islam JAMSOS –
AKH
JAMSOS – AKH yaitu Jaminan Sosial Akhirat = SURGA
وَعَدَ
اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu'min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat tinggal yang bagus di syurga `Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.
(QS. Attaubah, 9 : 72)
Bekerja Yang Shahih = Surga
العمل
الصحيح = الجنة
Pertanyaan Besar Tentang Pekerjaan Kita
????
•
Apakah pekerjaan yang kita lakukan akan mengantarkan kita ke surga?
•
Apa
syarat – syarat yang dapat menjadikan pekerjaan kita sebagai sarana untuk mendapatkan surga Allah SWT?
•
Bagaimana menjadikan pekerjaan kita sebagai sarana untuk mendapatkan surga?
Syarat Mendapatkan Surga Dengan Bekerja
1.
Niat Ikhlas Karena Allah SWT
النية
الخاصة لله تعالى
Artinya ketika bekerja, niatan utamanya adalah
karena Allah SWT sebagai kewajiban dari Allah yang harus dilakukan oleh setiap
hamba. Dan konsekwensinya adalah ia selalu memulai aktivitas pekerjaannya dengan
dzikir kepada Allah. Ketika berangkat dari rumah, lisannya basah dengan doa
bismillahi tawakkaltu alallah.. la haula wala quwwata illa billah.. Dan
ketika pulang ke rumahpun, kalimat tahmid menggema dalam dirinya yang keluar
melalui lisannya.
2. Itqan, sungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja
الإتقان
في العمل
Syarat kedua agar pekerjaan dijadikan sarana mendapatkan surga dari Allah SWT adalah profesional, sungguh-sungguh dan tekun dalam bekerja. Diantara bentuknya adalah, tuntas melaksanakan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, memiliki keahlian di bidangnya dsb. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda
إِنَّ
اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه
الطبراني)
Sesungguhnya Allah mencintai
seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya. (HR. Tabrani_
3. Bersikap Jujur & Amanah
الصدق
والأمانة
Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya
tersebut merupakan amanah, baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik
usaha, maupun secara duniawi dari Allah SWT yang akan dimintai pertanggung
jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. Implementasi jujur dan amanah dalam
bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi
haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
التَّاجِرُ
الصَّدُوْقُ اْلأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ
(رواه الترمذي)
Seorang pebisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’. (HR. Turmudzi)
4. Menjaga Etika Sebagai Seorang
Muslim
التخلق
بالأخلاق الإسلامية
Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika
sebagai seroang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian,
bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Bahkan
akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu'min.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
أَكْمَلُ
الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه الترمذي)
Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Turmudzi)
5. Tidak Melanggar Prinsip-Prinsip Syariah
مطبقا
بالشريعة الإسلامية
Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah
tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya.
Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal
:
Pertama dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya,
seperti memporduksi tidak boleh barang
yang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi), mengandung unsur riba, maysir,
gharar
dsb.
Kedua dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung
dengan pekerjaan, seperti risywah, membuat fitnah dalam
persaingan, tidak menutup
aurat, ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan, dsb.
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلاَ تُبْطِلُوا
أَعْمَالَكُمْ
Hai orang-orang yang
beriman, ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad, 47
: 33)
6. Menghindari Syubhat
الإبتعاد
عن الشبهات
Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan
dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan
dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar, yang
terdapat indikasi adanya satu kepentingan terntentu. Atau seperti bekerja sama
dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzliman atau pelanggarannya
terhadap syariah. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun
eksternal.
Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam
kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, "Halal itu
jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang
syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia
terjerumus pada yang diharamkan..." (HR. Muslim)
7. Menjaga Ukhuwah Islamiyah
المراعاة
بالأخوة الإسلامية
Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan
adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan sampai dalam
bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin.
Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar
tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan,
"Dan janganlah kalian membeli barang yang sudah dibeli saudara kalian"
Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di atas, tentu akan merenggangkan
juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka; saling curiga, su'udzon dsb.
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !